Bagian 3 Dari Buku ” TASAWUF SYAR’I “

Bagian ke tiga:

 

SEBAB SEBAB ADANYA KRITIKAN TERHADAP SUFISME

Insiden Jelek yang tak terduga sebelumnya, terjadi pada permulaan abad ke – 4 H.Aliran –aliran kebatinan ,syiah, qaramithah, dan kafir zindik memamfaatkan tarikat tarikat sufisme>mereka menyebabkan kondisi sangat berbahaya, namun sesungguhnya tak ada kelengahan bagi orang sufi.Kejadian itu ialah Ibnu Saba’, orang berdrah yahudi memamfaatkan cinta Ahlul  bait sebagai tipu daya. Dia menebarkan benih fitnah dan perang sipil yang menyebabkan wafatnya Khalifah Al-Rasyid  Utsman bin affan ra, dan gugurnya sekitar 10.000 orang sahabat dan tabiin sebagai syahid.Apakah pada peristiwa itu ada kelalaian Ahlul Bait dan kecintaan terhadap Ali r.a. ? jawabannya tentu tidak.Demikian juga faham tasawwuf tidak boleh dicemari dengannya. Tasawuf tak ada kaitan dengan fitnah tersebut.

Pada permulaan abad ke-7 H,sekolompok kafir zindik dan ahli-ahli bid’ah menyelinap masuk kebarisan orang orang berfaham sufi.Karena itu, merka menebarkan akidah-akidah syirik dan perbuaatan perbuatan Bid’ah atas nama agama , Misalnya :

  • Bahwa para Nabi dan Wali itu dapat melihat ke alam  mughayyabat ( alam gaib)
  • Bahwa para Wali itu dapat mengubah urusan dubia dan mengatur urusan urusan penciptaan.
  • Para Wali itu Dapat mendengarkan panggilan –panggilan di kuburan dan memiliki gudang rahmat Allah Subhana wata Ala.
  • Para Wali itu mampu menolong dan membukakan kesulitan serta menolak keputusan Allah ( qadha ).
  • Mendirikan masjid – masjid dan kubah diatas  kuburan para Wali.
  • Berziarah Kubur serta mengagungkannya dengan bersujud dan memohon dipenuhi kebutuhan kepada pemilik kuburan.
  • Bepergian ke kuburan – kuburan para Wali dengan tujuan ber-taqarrub dan berdoa disana.
  • Menyampaikan Nazar dan Hadiah kepada kuburan dan di hadapan para wali.
  • Menyelenggarakan majelis – majelis  dan perayaan perayaan bulanan dan tahunan di kuburan atas nama pembukaan dan sepasang pengantin, mengupas zakar (khitan), dan mencari berkah.Mereka menyembelih Sapi, kerbau dan kambing atas nama para wali sebagai taqarrub kepada mereka, dan disana bercampur antara laki laki dan perempuan.
  • Membolehkan Tamborin atau rebana, berdansa, dan seruling seruling penghangat atas nama zikir dan pertemuan pertemuan  tradisi.
  • Menyelenggarakan perayaan perayaan  atas nama ulang tahun kelahiran (milad) dan biografi Nabi pada tanggal 12  Rabi Al-Awwal.
  • Menyelenggarakan majelis majelis salawat Kepada Nabi Sallalahu Alaihi Wassalam.( dibuku itu penulis menyingkat dg Saw) dan berdiri secara bersama sama sebagai sambutan dan penghormatan kepada Ruh Nabi Saw. Yang hadir pada seluruh majelis majelis zikir sebatas prasangka batil mereka.
  • Membuat shighat salawat dan kalimat – kalimat zikir  dari hasil mereka sendiri.
  • Menyia-nyiakan Al –Qur’an dan Al-Sunnah, serta sangat mencintai hikayat – hikayat dan keramat – keramat yang indah.
  • Menggugurkan taklif syar’iyyah ( tuntutan syara’) dari diri mereka  dengan dalih telah sampai kepada tujuan dan hujjah hujjah yang indah,serta  dengan Dalih ilmu ilmu terpendam dan rahasia- rahasia yang diwariskan.
  • Akidah Bathil al-ittihad ( penyatuan wujud dengan Tuhan ), al-hulul ( menempati zat Tuhan ), atau wahdat al-wujud ( kesatuan wujud dengan Tuhan ).

Mereka yang tersesat lagi bodoh itu menisbatkan kebohongan dan kesesatan – kesesatannya kepada faham sufi yang benar.Hal itu karena sirkulasi kesesatan mereka dan untuk menyesatkan pandangan orang  awam. Janganlah menafsirkan reputasi faham sufi dengan kesesatan mereka yang sesat dan ahli bid’ah.

(Sumber : dari Buku “ Tasawuf SYAR’I Kritik atas Kritik , karya  Sayyid Nur bin Sayyid Ali. Bagian Tiga .Hal 33-35) Penerjemah M.Yaniyullah, Penerbit Hikmah. Cetakan 1 2003. diketik  ulang  di  internet oleh Abu Darin.)

Buku ini terdiri dari empat belas bagian (BAB) dan mempunyai 240 halaman.

Selanjutnya di halaman 78 dan 79 ………

Orang sufi Tidak Mengugurkan Taklif Syar’i……………

Orang sufi sama sekali tak Mengatakan Allah Berada di setiap tempat.

Orang orang sufi berkeyakinan bahwa Allah Swt.bertahta diatas Arasy sebagaimana Dia sendiri menyifatinya.

………………Bagi mereka,sesungguhnya Allah jelas berbeda dari Makhluk-Nya ……………Dia tidak bertempat (hulul) pada diri mereka…………………….dan tidak bercampur (imtizai) dengan mereka. Dia Bertahta diatas Arasy yang berada di atAS LANGIT-Nya , bukan di Bumi-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: