Kalau Belum Khuruj, Belum Ummat Muhammad SAW?

Posted on June 2, 2010

Kalau Belum Khuruj, Belum Ummat Muhammad SAW?
Assalaamu’alaikum wr. wb. 

Ustadz, saya ingin bertanya mengenai Jamaah Tabligh. Metode dakwah mereka

bagus, dengan cara khuruj fiisabilillah selama 3 hari, atau 40 hari, atau 4 bulan.

Mereka mengunjungi masjid-masjid dan bertamu ke rumah-rumah sekitar

masjid tersebut, mengajak untuk shalat berjamaah di Masjid.

Namun sayang salah satu amir mereka berpendapat bahwa orang yang belum

pernah melakukan hal tersebut di atas belum termasuk umat Nabi SAW,

walaupun sudah melakukan shalat dan ibadah lainnya. Bagaimana tanggapan

ustadz?

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Andi – Cianjur

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du.

Kita menghargai apa yang telah dilakukan saudara-saudara kita seiman dari

Jamaah Tabligh dengan sepenuh penghargaan. Dan apa yang mereka lakukan

itu tentu besar manfaatnya baik bagi semangat keagamaan di kalangan muslim

ataupun di negeri non muslim yang berhasil meng-Islamkan banyak orang.

Apalagi cara mereka berdakwah amat halus dan bijak, kita jarang sekali

mendengar aktifis tabligh yang mencaci maki atau menghina serta menuding-

nuding orang lain dengan cara kasar. Mereka memberi contoh nyata dan tidak

banyak bicara.

Apa yang mereka pahami tentang sunnah Rasulullah SAW itu memang baik,

yaitu hal-hal yang bersifat teknis seperti makan berjamaah, silaturrahim, ziarah,

memakai celak, parfum dan lainnya. Termasuk murah senyum dan selalu

mengajak kepada yang makruf adalah salah satu keunggulan mereka yang harus

kita akui. apalagi dari sisi kesederhanaan dan keikhlasan, kami kira sulit juga

menyaingi mereka dalam hal satu ini.

Khuruj adalah salah satu bentuk aktifitas mereka yang menjadi unggulan.

Berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain untuk menghidupkan masjid

dan menyampaikan ajaran Islam tentu merupakan bentuk dakwah yang mulia.

Tidak semua orang mampu melakukannya, apalagi terkadang sampai berhari-

hari bahkan berbulan-bulan meninggalkan anak dan istri. Tentu semua itu butuh kemampuan finansial, kemampuan mental dan bekal-bekal lainnya.

Sehingga kalau pola ini mau diwajibkan kepada semua lapisan ummat Islam,

tentu kurang pada tempatnya. Sebab meski aktifitas itu positif, tidak berarti

semua orang Islam wajib melakukannya. Sebab toh Rasulullah SAW tidak pernah

mewajibkannya secara spesifik. Para fuqaha dan ahli syariah pun tidak pernah

menuliskan dalam kitab-kitab fiqih yang mu`tabar adanya kewajiban ini bagi

setiap orang. Apalagi sampai mengatakan siapa yang tidak melakukan khuruj

belum melakukan sunnah nabi. Tentu pernyataan seperti ini memang agak

bersemangat, namun kurang tepat kalau diungkapkan di kalangan umum.

Dan sebenarnya yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk khuruj di jalan

Allah itu tidak selalu persisi dengan pola khuruj seperti yang mereka kembangkan.

Sebab ketika Rasulullah memerintahkan para shahabat pergi ke berbagai penjuru

dunia, sebenarnya dalam konteks menyebarkan agama Allah. Bentuknya bisa

beragam, bisa dalam bentuk perang, patroli militer, pengepungan benteng lawan,

delegasi politik, melakukan diplomasi dengan musuh, pengajaran dakwah

ataupun

menjadi gubernur, hakim, qadhi dan sebagainya. Tidak semata-mata melakukan

aktifitas ibadah ritual di masjid-mesjid saja.

Itu pun yang diperintahkan oleh Rasulullah tidak semua penduduk Madinah,

sebab ada begitu banyak shahabat yang tetap tinggal di Madinah sampai akhir

hayat dan tidak pernah pergi ke mana-mana. Apakah mereka dianggap tidak

menjalankan sunnah Rasulullah SAW? Tentu tidak bukan.

Bahkan Al-Quran sendiri menyebutkan harus ada sebagian dari kalangan

shahabat yang tetap berdiam di Madinah, tidak pergi ke sana ke mari untuk

mendalami agama Allah.

Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari

tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam

pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada

kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat

menjaga dirinya. (QS At-Taubah: 122)

Jadi tetap harus ada pembagian tugas bagi masing-masing orang, tidak mungkin

perintah berkhuruj itu diwajibkan secara fardhu air kepada semua umat Islam.

Wallahua’lambishshawab.
Wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi. Wabarakatuh.

Ahmad Sarwat, Lc.

Filed under: AQIDAH AL ISLAM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: