KASIH SAYANG MANHAJ SALAF

Kasih Sayang Manhaj Salaf
1
Oleh :
Ustâdz Muhammad bin Badr al-Umari
hafizhahullâhu
Kata Pengantar :
Fadhîlatul Ustâdz Arif Fathul Ulum
hafizhahullâhu
© Hak Kopi Bagi Kaum Muslimin
Disebarkan dengan izin penulisnya di blog abusalma.wordpress.com
Silakan menyebarkan, mencetak, mengutip keseluruhan maupun
sebagian risalah ini selama tidak untuk tujuan komersil dan tidak
merubah makna.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
2
PENGANTAR
Oleh :
Al Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh
بسم لله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله ، نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات
أعمالنا .
من يهده الله فلا مضل له ، ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله
وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
{يا أَيها الَّذين آمنوا اتُقوا اللَّه حق تقَاته ولا ت  موتن إِلَّا وأَنتم مسل  مونَ}(آل
( عمران: 102
{يا أَيها النا  س اتُقوا رب ُ ك  م الَّذي خلَقَ ُ كم من نفْسٍ واحدة وخلَق منها زوجها وبثَّ من  هما
رِجالاً كَثيراً ونِساءً واتُقوا اللَّه الَّذي تساءَُلونَ بِه والْأَرحام إِنَّ اللَّه كَانَ علَي ُ كم
( رقيباً}(النساء: 1
{يا أَيها الَّذين آمنوا اتُقوا اللَّه وُقوُلوا َق  ولاً سديداً . يصلح لَ ُ كم أَعمالَ ُ كم ويغفر لَ ُ كم
. (71- ُذنوب ُ كم ومن يطعِ اللَّه ور  سولَه فَقَد فَاز فَوزاً عظيماً} (الأحزاب: 70
وبعد
Segala puji bagi Alloh pemilik nama Ar-Rahman Ar-Rahim, Dialah
yang memiliki rahmat yang luas meliputi semua makhluknya :
 ورَحَمْتَيِ وسَعِتَْ كلُ شيَءْ 
Kasih Sayang Manhaj Salaf
3
“Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu “ ( Al-A’raf : 156).
Di antara rahmat Alloh terhadap manusia bahwa Dia telah
menyempurnakan Islam dan menjadikannya sebagai satu-satunya
agama yang diridhaiNya sebagaimana dalam firmanNya :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ 
 ديِناً
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan
telah Ku-cukupkan kepada kalian ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam
itu jadi agama bagi kalian “ ( Al-Maidah : 3 ).
Adalah umat ini dalam keadaan dirahmati oleh Alloh pada generasi
awalnya, Alloh jaga mereka dari berbagai macam hawa nafsu dan
penyelewengan, mereka selalu istiqomah dalam ketaatan kepada
Alloh dan RasulNya, mereka adalah para sahabat Nabi  yang tidak
dikenal diri mereka kecuali ittiba’ kepada Rasulullah  dan kepada
Kitab yang diturunkan oleh Alloh kepadanya.
Demikian juga jejak mereka diikuti oleh generasi penerus mereka dari
para tabi’in dan para imam yang berada di atas petunjuk – semoga
Alloh meridhai mereka semuanya -.
Kemudian datanglah sesudah mereka generasi-generasi belakangan
yang tidak merasa cukup dengan syari’at Islam yang dibawa oleh
Rasulullah , mereka gunakan akal mereka untuk mengada-adakan
perkara-perkara baru di dalam agama, seakan-akan mereka
mengatakan bahwa agama Islam ini masih belum sempurna hingga
perlu dilengkapi, dan seakan-akan mereka katakan bahwa Rasulullah
, telah berkhianat kepada Alloh sehingga belum lengkap di dalam
menyampaikan risalah Alloh kepada umatnya !!.
Akan tetapi Alloh dengan rahmatNya telah menjadikan di setiap
zaman sebuah kelompok yang tetap berjalan di atas agama yang haq,
agama yang dibawa oleh Rasulullah  dan yang ditempuh oleh para
sahabatnya, Rasulullah  bersabda :
Kasih Sayang Manhaj Salaf
4
لن تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى تقوم
الساعة
“Tidak henti-hentinya sekelompok dari umatku yang mendapat
pertolongan ( dari Alloh ) tidak ada yang bisa membahayakan mereka
siapapun yang menelantarkan mereka hingga tegaknya kiamat “ (
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya 5/34, Tirmidzi dalam
Sunannya 4/485 , dan Ibnu Majah dalam Sunannya 1/5 dan
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Ibnu Majah ).
Ath-Thoifah Al-Manshuroh ini adalah Ahli Sunnah wal Jama’ah
sebagaimana dinashkan oleh para imam seperti Al-Imam Bukhari , Al-
Imam Ahmad bin Hanbal, dan Qadhi ‘Iyadh ( Lihat Syarah Nawawi
atas Muslim 13/66-67 dan Fathul Bari 1/164 ).
Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh
dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  dan apa yang disepakati
oleh As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik
Di antara karakteristik Ahli Sunnah wal Jam’ah bahwa mereka selalu
melaksanakan perintah yang tegas dari Rasulullah  agar selalu
berpegang teguh kepada Sunnahnya dan agar selalu menjauhi segala
kebid’ahan yang datang sesudahnya sebagaimana dalam hadits
‘Irbadh bin Sariyah :
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها
بالنواجذ وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة و كل بدعة ضلالة
“ Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah
Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku, dan
awaslah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara
yang yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan “ (
Hadits Shahih Riwayat Ahmad dan Ashabus Sunan ).
Kasih Sayang Manhaj Salaf
5
Di antara keraktersitik Ahli Sunnah bahwa mereka menebar
kasih sayang kepada manusia sebagaimana Alloh jadikan Rasulullah
 sebagaimana rahmat bagi semesta alam :
وما َأرسلْناك ِإلا رحمةً للْعاَلمين
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiyaa’ : 107)
Maka Ahli Sunnah adalah orang-orang yang paling
mengetahui al-haq lagi paling penyayang terhadap manusia.
Dakwah Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah dakwah yang penuh kasih
sayang terhadap manusia, dan bukanlah dakwah yang ekstrim dan
menyeramkan.
Banyak sekali bentuk-bentuk kasih sayang Ahli Sunnah wal Jama’ah
didalam Dakwahnya kepada manusia sebagaimana dijelaskan oleh
Saudara kami yang mulia Al-Ustadz Muhammad bin Badr Al Umari –
Hafidhahullah – yang telah memaparkan hal tersebut dengan bagus
dan rinci di dalam risalahnya yang berjudul Kasih Sayang Manhaj
Salaf.
Maka kami dapati risalah ini penting sekali dibaca oleh setiap muslim
yang ingin menempuh jalan yang haq yang diridhai oleh Alloh
Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga risalah tersebut bisa memberikan manfaat
khususnya kepada penulisnya, pembacanya dan kepada kaum
muslimin semuanya. Amin.
و صلى الله عليه وسلم تسليما كثيرا و آخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين .
Kediri, 26 Dzul Qa’dah 1430 H
13 Nopember 2009 M
Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifullah
Kasih Sayang Manhaj Salaf
6
MUQODDIMAH
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل
له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon
pertolongan, serta memohon ampunan kepada-Nya. Dan kita
berlindung kepada-Nya dari keburukan diri kita, kejelekan
perbuatan kita. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Nya, maka tidak
ada yang sanggup menyesatkannya. Namun barangsiapa yang
disesatkan oleh Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya
petunjuk.
Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak untuk
disembah melainkan Dia. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba sekaligus rasul-Nya. Allah berfirman :
يا أَّيها الَّذين آمنوا اتّُقوا اللَّه  حقّ تقَاته ولا تموتنّ إِلا وأَنتم مسل  مونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imron :
102)
يا أَّيها النّا  س اتُّقوا ر بُّ ك  م الَّ  ذي خلَقَ ُ كم من نفْسٍ واحدة وخلَق منها زوجها وبثَّ من  هما
رِجالا كَثيرا ونِساءً واتّُقوا اللَّه الَّذي تساءَُلونَ بِه والأرحام إِنَّ اللَّه كَانَ علَي ُ كم رقيبا
Kasih Sayang Manhaj Salaf
7
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah
menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah
memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu.” (QS. An Nisaa’ : 1)
يا أَّيها الَّذين آمنوا اتّُقوا اللَّه وُقوُلوا قَولا سديدا .يصلح لَ ُ كم أَعمالَ ُ كم ويغفر لَ ُ كم
ذُنوب ُ كم ومن يطعِ اللَّه ور  سولَه فَقَد فَاز فَوزا عظيما
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki
bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosadosamu.
Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al
Ahzab : 70-71)
Tulisan ini merupakan penjelasan seputar pokok dan ciri
dakwah salafiyyah ahlus sunnah wal jama’ah yang pada akhir-akhir
ini dicela dan dihujat, baik karena tuduhan dusta dari orang-orang
yang dengki terhadap dakwah yang diberkahi ini, maupun karena
sikap sebagian person yang menyimpang dari pokok dan ciri
dakwah ini. Sehingga banyak orang menghukumi dakwah
salafiyyah secara tidak benar, yaitu menghukumi menurut
perbuatan sebagian personnya.
Maka di sini perlu kami jelaskan kepada semua pihak, bahwa
dakwah salafiyyah merupakan dakwah yang penuh kasih sayang,
sangat jauh dari yang dituduhkan oleh sebagian kalangan bahwa
Kasih Sayang Manhaj Salaf
8
dakwah ini ekstrim, sesat, merasa paling benar sendiri, dan
sebagainya. Dan tulisan ini kami tujukan kepada tiga pihak :
Pertama, kepada orang-orang yang membenci salafiyyun, kami
haturkan kepada kalian, bagaimanapun kalian membenci kami –
dimana kami hanyalah sebatas orang-orang yang bersemangat
meniti jejak salaf-, yang kami harapkan dari kalian hanyalah agar
kalian mau bersemangat meniti jejak salaf yang sholih. Silakan
membenci kami, silakan mencela person kami, tapi jangan jadikan
kebencian tersebut sebagai pendorong untuk menolak manhaj
salaf, karena manhaj salaf adalah kebenaran. Amalkanlah pokok
dan ciri manhaj salaf dengan sebenar-benarnya, niscaya persatuan
haqiqi akan terwujud.
Kedua, kepada orang-orang yang mengaku bersemangat meniti
manhaj salaf, marilah kita memperbaiki kualitas dalam
mengamalkan pokok dan ciri manhaj salaf tersebut. Agar
keindahan manhaj salaf ini semakin menyeruak, membuktikan
kepada dunia bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang penuh
kasih.
Ketiga, kepada manusia secara umum, inilah manhaj salaf yang
penuh kasih, yang menghantarkan kepada ajaran islam yang murni,
serta keselamatan di dunia dan akherat.
Semoga usaha yang sedikit ini dinilai dengan pahala yang
melimpah disisi-Nya, pada hari yang tiada bermanfaat harta dan
anak keturunan, kecuali bagi orang yang datang kepada Allah
dengan hati yang selamat dari noda-noda dosa.
يوم لا ينفَ  ع مالٌ ولا بنونَ .ِإلا من َأتى اللَّه ِبقَلْبٍ سليمٍ
Kasih Sayang Manhaj Salaf
9
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS.
Asy Syu’araa’ : 88-89)
Tak lupa kami ucapkan jazakumuLLOH khoiro kepada
Ustadzuna Al Fadhil Al Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh
–hafizhohuLloh-, yang berkenan mengoreksi tulisan ini serta
memberikan pengantar yang begitu berharga. Semoga Allah
membalas beliau dengan karunia yang banyak, serta semoga Dia
mencurahkan barokah ilmu beliau kepada kami, serta kaum
muslimin semuanya. Amin…
18 Rabi’ Tsani 1430 H/14 April 2009
Hamba yang senantiasa mengaharap
ampunan-Nya,
Muhammad bin Badr al ‘Umari
Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya,
para gurunya, serta kaum muslimin semuanya.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
10
MANHAJ SALAF
Manhaj merupakan sebuah jalan atau metode dalam beragama.
Dimana setiap kelompok yang terpecah dari umat Islam ini pasti
memilki manhaj/metode, yang mereka jadikan sebagai patokan
dalam menjalani kehidupan.
Sudah menjadi sunnatulloh, umat Islam terpecah menjadi
tujuh puluh tiga golongan, sebagaimana pula Yahudi dan Nasrani
terpecah menjadi tujuh puluh golongan lebih. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
((افترقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة. فواحدة في الجنة. وسبعون في النار,
وافترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة. فإحدى وسبعون في النار، وواحدة في الجنة.
والذي نفس محمد بيده! لتفترقن أمتي على ثلاث وسبعين فرقة. واحدة في الجنة و ثنتان
سبعون في النار)).
قيل: يا رسول الله! من هم؟ قال ((الجماعة)).
“Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan, satu golongan masuk
surga dan 70 lainnya ke neraka. Nasrani terpecah menjadi 72
golongan, 71 golongan ke neraka, hanya satu yang masuk surga.
Dan demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh umatku
akan terpecah menjadi 73 golongan, satu golongan akan masuk
surga dan 72 lainnya ke neraka.”
Rasulullah ditanya : “Siapa golongan yang selamat itu wahai
Rasulullah?”
Beliau menjawab : “Al Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah no. 3992, Ibnu
Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no.63, Al Lalika’i dalam Syarh Ushul
I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah no.149, Al Ashbahani dalam Al
Hujjah (19-20). Dinyatakan hasan oleh Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
dalam Bashoir Dzawisy Syarof hal. 92-93)
Kasih Sayang Manhaj Salaf
11
Umat Islam terpecah menjadi 73 golongan. Setiap golongan
saling membanggakan manhaj yang ada pada dirinya masingmasing,
ُ ك ُّ ل حزبٍ بِما لَديهِم فَرِ  حونَ
“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada
golongan mereka.” (QS. Ar Ruum : 32)
Akan tetapi mereka semua bangga di atas kesesatan, segala
macam kebanggaan itu akan hilang dan lenyap, karena ujung
kebanggaan mereka akan berakhir kepada neraka. Kecuali satu
golongan, yang berada di atas jalan terang benderang. Mereka
bangga memegang teguh kebenaran tersebut, kebenaran
manhaj/jalan ahlus sunnah wal jama’ah. Sebagaimana sabda
Rasulullah tatkala ditanya siapa golongan yang akan masuk surga
tersebut, Beliau menjawab : “Al Jama’ah.”, dan dalam riwayat lain
Beliau menjelaskan siapa itu ahlus sunnah wal jama’ah dengan
sabdanya :
ما أنا عليه وأصحابي
“(Yaitu) golongan yang menempuh jalanku dan jalan para
sahabatku.” (HR. At Tirmidzi 2641, Al Hakim 1/128-129, Ibnu
Wadh-dhoh dalam Al Bida’ wan Nahyu ‘Anha 15-16, Al Ajurri dalam
Asy Syari’ah 16. Dihasankan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Al
Bashoir hal. 74-75)
Ya, ahlus sunnah wal jama’ah ialah golongan yang
berpegang teguh dengan manhaj Rasulullah dan para sahabat
Beliau. Perlu diketahui, seluruh golongan sesat yang ada, mereka
mengatakan bahwa manhaj mereka berlandaskan Al Qur’an dan As
Sunnah. Akan tetapi mereka menyetir dalil-dalil Al Qur’an dan As
Sunnah sesuai hawa nafsu dan kepentingan kelompok.
Adapun Ahlus sunnah wal jama’ah, dalam memahami Al
Qur’an dan As Sunnah, mereka merujuk kepada pemahaman para
Kasih Sayang Manhaj Salaf
12
sahabat, sebagaimana sabda Rasul di atas : “(Yaitu) golongan yang
menempuh jalanku dan jalan para sahabatku.”
Itulah manhaj salaf, manhaj ahlus sunnah wal jama’ah, yang
merupakan manhaj para sahabat, para salafush sholih (para
pendahulu yang sholih). Barangsiapa memegang teguh manhaj
tersebut, niscaya ia akan berjumpa dengan Rabbnya dalam
keadaan ridho, Allah ridho kepadanya dan ia ridho kepada Allah.
والسّابُِقونَ الأوّُلونَ من الْ  مهاجِرِين والأنصارِ والَّذين اتّبعو  هم بِإِحسان رضي اللَّه عن  هم
ور  ضوا عنه وأَعدّ لَ  هم جنّات تجرِي تحتها الأنها  ر خالدين فيها أَبدا ذَلك الْفَو  ز الْعظي  م
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk
Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka
dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya;
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan
yang besar.” (QS. At Taubah : 100)
Kasih Sayang Manhaj Salaf
13
KASIH SAYANG MANHAJ SALAF
Orang-orang yang memegang teguh manhaj salaf, ialah mereka
yang menjadikan perikehidupan para salaf sebagai pedoman, baik
dalam masalah aqidah (keyakinan), amal, akhlak, serta sendi-sendi
kehidupan lainnya.
Mereka adalah orang-orang yang paling giat mencari ilmu
dari sumbernya, yaitu Al Qur’an dan As Sunnah sesuai yang
dipahami para salaf. Sehingga dengan itu, mereka menjadi orangorang
yang paing berilmu, paling hikmah, selamat sampai tujuan,
serta menebar kasih sayang kepada seluruh alam,
وما َأرسلْناك ِإلا رحمةً للْعاَلمين
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiyaa’ : 107)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan siapa itu
ahlus sunnah, beliau berkata :
 هم أَعلَم بِالْحق وأرحم ِبالْخلْقِ
“Mereka adalah orang-orang yang paling tahu akan kebenaran lagi
paling sayang terhadap makhluk.” (Minhajus Sunnah An
Nabawiyah 5/158)
Berikut ini merupakan diantara pokok dan ciri manhaj salaf
ahlus sunnah wal jama’ah, dimana itu semua merupakan wujud
kasih sayang mereka terhadap makhluk. Sebagian orang
menganggap dakwah salaf sebagai dakwah ekstrim, penuh
kejahatan dan keburukan. Maka dari itu kami hadirkan tulisan ini
sebagai bukti kasih sayang manhaj salaf, bahwa manhaj salaf
bukanlah manhaj yang ekstrim, namun penuh ilmu, hikmah, dan
kasih sayang.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
14
Pertama, Menyeru Kepada Tauhid dan Mencegah dari Syirik.
Salafiyyun –orang-orang yang berpegang teguh dengan
manhaj salaf- senantiasa menyeru kepada tauhid1 dan mencegah
dari perbuatan syirik2. Inilah salah satu bentuk kasih sayang
terbesar mereka terhadap umat manusia. Sebagaimana pula
Rasulullah diutus dalam rangka memberantas kesyirikan dan
mendakwahkan ketauhidan, Beliau mengeluarkan manusia dari
gelapnya syirik menuju cahaya tauhid, menggiring jiwa-jiwa yang
hendak tergelincir ke lembah jurang kebinasaan menuju kampung
keselamatan. Allah befirman :
و ُ كنتم علَى شفَا  حفْرة من النّارِ فَأَنقَ َ ذ ُ كم منها
“Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali Imron : 103)
Dakwah tauhid merupakan prioritas yang paling
diutamakan dalam manhaj salaf, karena merupakan dakwah yang
dibawa oleh Rasulullah, bahkan oleh semua rasul,
ولَقَد بعثْنا في ُ كلِّ ُأمّة ر  سولا أَن اعب  دوا اللَّه واجتنِبوا الطَّا ُ غوت
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap
umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thaghut itu’ .” (QS. An Nahl : 36)
Thaghut merupakan segala yang disembah selain Allah.
Syaikh Sholih Al Fauzan berkata : “Seluruh apa yang disembah
selain Allah –sedangkan dia ridho untuk disembah- maka dia
adalah thaghut.”
1 Tauhid : meng-esakan Allah dalam rububiyah (perbuatan Allah), uluhiyah
(ibadah kepada Allah), serta asma’ wa sifat (nama dan sifat Allah)
2 Syirik : menyekutukan atau membuat tandingan bagi Allah baik dalam hal
rububiyah, uluhiyah, atau asma’ wa sifat.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
15
Kemudian beliau menambahkan : “(Ayat di atas
menunjukkan) bahwa dakwah kepada tauhid serta mencegah dari
perbuatan syirik merupakan prioritas utama seluruh rasul dan para
pengikut mereka.” (Al Mulakh-khosh fi Syarhi Kitabit Tauhid hal.
11)
Salafiyyun tergerak rasa kasih sayang mereka dikala melihat
fenomena umat manusia yang bergelimang dengan kesyirikan.
Mereka sadar betul bahwa syirik merupakan dosa yang paling
besar. Bila pelakunya mati sedangkan ia belum betaubat dari
kesyirikannya itu, maka tidak akan diampuni dosa syiriknya, dan ia
pun kekal di neraka selamanya,
ِإنَّ اللَّه لا يغفر َأنْ يشرك ِبه ويغف  ر ما  دونَ ذَلك لمن يشاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa
yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa’ : 48)
ِإّنه من يشرِك ِباللَّه فَقَد حرّم اللَّه علَيه الْجنّةَ ومأْواه النّا  ر وما للظَّالمين من أَنصارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan)
Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan
tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu
seorang penolong pun.” (QS. Al Maidah : 72)
Karena itulah, para ulama’ ahlus sunnah pengibar panji
tauhid bermunculan, mereka bangkit berjuang mendakwahkan
tauhid dan memberantas syirik. Semisal Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz
bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Syaikh
Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, dan lainnya.
Mereka menyeru manusia agar memurnikan ibadah hanya
kepada Allah serta menjauhi kesyirikan. Mereka adalah imamimam
dakwah salafiyah, penerus estafet perjuangan dakwah
tauhid yang diemban oleh para rasul. Siang dan malam mereka
Kasih Sayang Manhaj Salaf
16
lalui demi tugas mulia ini, tidak bergeming sedikitpun meski orangorang
jahil berusaha merintangi dakwah yang diberkahi ini,
يرِي  دونَ ليطْفُئوا نور اللَّه بِأَفْواههِم واللَّه مت ّ م نورِه ولَو كَرِه الْكَاف  رونَ
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah
dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap
menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”
(QS. Ash Shaff : 8)
Kedua, Menyeru Kepada Sunnah, Serta Melarang dari Bid’ah.
Salafiyyun melarang dari perbuatan bid’ah, serta menyeru
kepada sunnah yang merupakan lawan dari bid’ah. Berkata Al
Imam Asy Syathibi dalam menjelaskan makna bid’ah : “Setiap amal
ibadah yang tidak ada dasarnya dari syari’at (Islam), maka ia
dinamakan bid’ah.” (Al I’tishom hal. 27)3
Sedangkan sunnah, ia merupakan jalan yang telah
ditempuh oleh Rasulullah beserta para sahabat beliau, jalan yang
diterangi oleh lentera-lentera bashiroh (dalil yang nyata),
sebagaimana firman Allah :
ُقلْ هذه سبِيلي أَد  عو إِلَى اللَّه  علَى بصيرة أَنا ومنِ اتّبعنِي
“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang
mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang
nyata’ .” (QS. Yusuf : 108)
Orang-orang yang berjalan di atas sunnah ini disebut ahlus
sunnah wal jama’ah. Mereka menapakinya dengan penuh
keyakinan, karena mereka sedang menempuh jalan yang diterangi
oleh hujjah/dalil yang jelas.
Berkebalikan dengan ahlul bid’ah, mereka ibarat orang
buta, berjalan di malam gelap gulita, di samping kanan dan kirinya
3 Kami pilihkan pengertian yang lebih ringkas agar lebih mudah dipahami,
wallahu a’lam.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
17
terbentang jurang yang membinasakan. Itu dikarenakan mereka
menjalankan agama ini tanpa dalil, sehingga amalan mereka
tertolak, dan pada akhirnya mereka menghadap Allah dengan
tangan hampa. Rasulullah bersabda :
من أَحدثَ في أَمرِنا هذَا ما لَيس منه فَ  هو رد
“Barangsiapa mengada-adakan hal baru dalam perkara kami ini
(perkara agama)4 maka ia tertolak.” (HR. Bukhori 2697, Muslim
1718)
Dalam riwayat Imam Muslim :
من عملَ عملاً لَيس علَيه أَم  رنا فَ  هو رد
“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada
perintahnya dari kami maka ia tertolak.”
Bukan hanya itu, mereka akan menanggung beban dosa
akibat kelancangan mengada-adakan atau mengamalkan amalan
yang tidak ada dasarnya, karena pada hakekatnya mereka telah
menuduh bahwa Rasulullah mengkhianati tugas kerasulannya,
yaitu tugas mengajarkan kepada umat semua amalan yang dapat
mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka.
Rasulullah bersabda :
إنه لم يكن نبي قبلي إلا كان حقا عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم، وينذرهم شر
ما يعلمه لهم
“Sesungguhnya tidak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan
wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang
4 Ditegaskan oleh Nabi bahwa bid’ah yang dilarang hanyalah bid’ah dalam
masalah agama. Adapun bid’ah dalam masalah dunia seperti pembuatan
pesawat, mobil, senjata canggih, serta perkembangan teknologi lainnya, maka
bukanlah bid’ah yang terlarang, selama tidak digunakan untuk hal-hal yang
diharamkan.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
18
ia ketahui untuk mereka, serta memperingatkan mereka dari
keburukan yang diketahui bagi mereka.” (HR. Muslim 1844)
Beliau juga bersabda :
مابقي شيء يقرب من الْجنّة ويباعد من النّار إلا وقد بين لكم
“Tidak tersisa suatu (amalan) pun yang dapat mendekatkan
kepada surga dan menjauhkan dari neraka, kecuali sudah
dijelaskan semuanya kepada kalian.” (HR. Thobroni dalam Al
Mu’jamul Kabir 1647, dishohihkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi
dalam Ilmu Ushulil Bida’ hal. 19)
Para ahlul bid’ah pada hakekatnya –sadar atau tidak sadartelah
menuduh bahwa Rasulullah tidak mengajarkan amalanamalan
tersebut secara keseluruhan, dan mereka beranggapan
bahwa di sana masih banyak amalan-amalan yang beliau
sembunyikan. Alangkah kejinya tuduhan ini!
Imam Malik berkata : “Barangsiapa membuat ajaran baru
dalam agama Islam, kemudian ia anggap sebagai bid’ah hasanah
(bid’ah yang baik), maka ia telah menuduh bahwa Muhammad
(Rasulullah) telah mengkhianati tugas kerasulan. Hal itu karena
Allah berfirman,
الْي  وم أَكْملْ  ت لَكُم دين ُ كم
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” (QS.
Al Maidah : 3)
Maka perkara apapun yang bukan termasuk bagian dari
agama pada hari (diturunkannya ayat) ini, maka pada hari ini bukan
termasuk bagian dari agama pula.” (Al I’tishom hal. 37. Imam Asy
Syathibi menukilnya dari Ibnu Majisyun yang mendengar langsung
ucapan tersebut dari Imam Malik)
Salafiyyun tidak sampai hati melihat saudaranya
bergelimang dengan bid’ah, yang kelak menghadap Rabbnya
dengan tangan hampa bahkan memikul dosa besar. Maka sebagai
Kasih Sayang Manhaj Salaf
19
wujud kasih sayang, mereka menyeru kepada sunnah dan
melarang dari bid’ah.
Ketiga, Mengajak Kepada Persatuan dan Mencegah dari
Perpecahan.
Telah dijelaskan di muka bahwa perpecahan merupakan
sunnatulloh yang sudah pasti terjadi. Namun usaha untuk
menghindari perpecahan serta mengajak kepada persatuan
merupakan sebuah keharusan dan kewajiban. Allah berfirman :
ولا ت ُ كونوا كَالَّذين تفَرّُقوا واختلَُفوا من بعد ما جاءَ  ه  م الْبيِّنا  ت وُأولَئك لَهم عذَاب
عظيم
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai
dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang
berat.” (QS. Ali Imron : 105)
Mu’tazilah memiliki manhaj tersendiri, begitu pula dengan
Syi’ah, Qodariyah, Jahmiyah, Shufiyah, Khowarij, serta seluruh
kelompok yang ada. Semuanya memiliki manhaj tersendiri dan
membanggakan manhajnya masing-masing. Tatkala mereka
ditanya : “Apa landasan manhaj kalian?”
Niscaya mereka akan menjawab : “Landasan manhaj kami adalah
Al Qur’an dan As Sunnah/Al Hadits.”
Semua kelompok akan mengatakan hal yang sama. Lalu,
bagaimana bisa mereka berpecah belah, padahal landasan mereka
sama?? Jawabnya : Karena tatkala berdalil dengan Al Qur’an dan
As Sunnah, mereka memahami keduanya dengan pemahaman
mereka sendiri, akal mereka sendiri, hawa nafsu mereka sendiri.
Sehingga Al Qur’an dan As Sunnah yang sebenarnya menunjukkan
kepada kebenaran, mereka tafsirkan sekehendak hawa nafsu agar
dalil-dalil tersebut mendukung pemahaman mereka yang sesat.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
20
Inilah yang menjadi penyebab perpecahan, sebab
pemahaman setiap orang itu berbeda. Bila Al Qur’an dan As
Sunnah dipahami menurut pemahaman masing-masing orang,
niscaya akan muncul bermacam tafsiran sebanyak jumlah manusia
di muka bumi ini, serta akan terjadi perpecahan sebanyak itu pula.
Adapun Salafiyyun, maka mereka menawarkan kepada
umat satu-satunya jalan menuju persatuan, yaitu dengan cara
mengajak umat untuk memahami Al Qur’an dan As Sunnah sesuai
yang dipahami oleh para sahabat. Inilah yang diperintahkan oleh
Rasulullah tatkala umat menghadapi perpecahan dan perselisihan.
Beliau bersabda :
من يعش من ُ كم فَسيرى اختلَافًا كَثيرا وإِيا ُ كم ومحدثَات الُْأمورِ فَإِنها ضلَالَةٌ فَمن أَدرك
ذَلك من ُ كم فَعلَي ُ كم بِ  سنتي و  سنة الْ  خلَفَاءِ ال  راشدين ع  ضوا علَيها بِالنواجِذ
“Siapa saja yang hidup diantara kalian (setelahku), niscaya ia akan
melihat perselisihan yang banyak. Dan jauhilah perkara-perkara
baru (bid’ah dalam agama), karena ia adalah kesesatan. Jika kalian
menjumpai hal itu (perselisihan dan bid’ah), maka pegang
teguhlah sunnahku serta sunnah para khulafa’ur rasyidin, gigitlah
sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud
4607, At Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 43&44. Dishohihkan oleh
Syaikh Salim Al Hilali dalam Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi
hal. 70)
Telah jelas dari hadits di atas, tatkala umat menghadapi
perselisihan, Rasulullah tidak hanya menyuruh mereka untuk
berpegang dengan sunnah Beliau saja, tetapi juga menyuruh untuk
berpegang kepada sunnah para khulafa’ur rasyidin. Yaitu dengan
merujuk pemahaman Al Qur’an dan As Sunnah kepada
pemahaman mereka, juga pemahaman seluruh sahabat rasul,
sebagaimana sabda Beliau tatkala menjelaskan siapa itu ahlus
sunnah wal jama’ah :
Kasih Sayang Manhaj Salaf
21
ما أنا عليه وأصحابي
“(Yaitu) golongan yang menempuh jalanku dan jalan para
sahabatku.”5
Bila umat Islam mau berpegang dengan pemahaman para
sahabat (salafush sholih), niscaya tidak akan ada lagi perselisihan
kecuali hanya dalam masalah furu’ (cabang ilmu fiqih) yang tidak
membahayakan persatuan umat.
Inilah Salafiyyun, rasa kasih sayang membuat mereka
bersemangat mempersatukan umat di atas tali agama Allah, di atas
aqidah dan manhaj yang benar,
واعتص  موا بِحبلِ اللَّه جميعا ولا تفَرّُقوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah,
dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imron : 103)
Ya, persatuan di atas agama yang lurus, bukan persatuan
yang dipaksa-paksakan antara kelompok-kelompok yang masih
berseberangan aqidah mereka, alias persatuan ala Yahudi,
persatuan sebatas zhohirnya saja, namun aqidah/keyakinan
mereka bercerai-berai,
تحسب  هم جميعا وُقُلوب  هم شتّى
“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah
belah.” (QS. Al Hasyr : 14)
Bukan pula persatuan yang diusung oleh para penyampai hadits
palsu :
اختلاف أمتي رحمة
5 Takhrij hadits ini telah disebutkan di muka.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
22
“Perselisihan umatku adalah rahmat.”
Hadits ini laa ashla lahu (tidak ada asal-usulnya), tidak
ditemukan sanadnya sama sekali, bahkan sanad yang palsu
sekalipun. Bahkan bertentangan dengan banyak ayat dan hadits
yang memerintahkan kepada persatuan dan menjaui perselisihan.
Maka yang benar adalah : perselisihan umat merupakan
sebuah adzab yang diakibatkan tidak maunya mereka merujuk
kepada pemahaman salafush sholih dalam memahami Al Qur’an
dan As Sunnah. Sehingga perpecahan tersebut melemahkan
kekuatan mereka,
ولا تناز  عوا فَتفْشُلوا وتذْهب ِر  يح ُ كم
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan
kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al Anfaal : 36)
Keempat, Dakwah Salafiyah Mengajak Kepada Kejayaan Islam
Allah berfirman :
وعد اللَّه الَّذين آمنوا من ُ كم وعمُلوا الصّالحات لَيستخلفَنّهم في الأرضِ كَما استخلَف
الَّذين من قَبلهِم ولَيمكّننّ لَ  هم دين  ه  م الَّذي ارتضى لَ  هم ولَيبدّلَنّ  هم من بعد خوفهِم أَمنا
يعب  دوننِي لا يشرِ ُ كونَ بِي شيئًا
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di
antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum
mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka
Kasih Sayang Manhaj Salaf
23
agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar
akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku
dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.”
(QS. An Nuur : 55)
Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa kekuasaan Islam (khilafah
Islamiyah) akan tegak di muka bumi bila umat Islam mau
memperbaiki iman dan amal sholih, serta menegakkan tauhid dan
menjauhi kesyirikan.
Perbaikan iman tidak akan tegak kecuali dengan
meluruskan aqidah, yaitu dengan cara merujuk pemahaman Al
Qur’an dan As Sunnah sesuai pemahaman salafush sholih, karena
aqidah para salaf merupakan aqidah yang lurus, murni, belum
tercampur dengan noda-noda penyimpangan. Perbaikan amal
sholih tidak akan terwujud kecuali dengan mengajak manusia
kepada sunnah dan menjauhi bid’ah, karena suatu amalan tidak
dapat dikatakan “sholih” kecuali bila dilandasi dengan dalil yang
jelas, dan bila suatu amalan tidak dilandasi dengan dalil maka itu
bukanlah amal sholih melainkan amal bid’ah. Kemudian penegakan
tauhid dan pemberantasan syirik tidak akan terwujud kecuali
dengan cara mendakwahkannya.
Dan perbaikan iman yang merujuk kepada pemahaman
salaf, perbaikan amal sholih dengan merujuk kepada sunnah, serta
penegakan tauhid dengan mendakwahkannya, ketiganya
merupakan pokok-pokok manhaj salaf sebagaimana telah
diterangkan pada bab-bab sebelumnya.
Maka dari sini telah jelas, dakwah salafiyah merupakan
satu-satunya jalan menuju kejayaan umat Islam. Ini merupakan
Kasih Sayang Manhaj Salaf
24
bentuk kasih sayang manhaj salaf kepada umat, yang mengajak
mereka menuju kejayaan setelah sekian lama terpuruk dan
dihinakan oleh musuh-musuhnya.
Kelima, Kasih Sayang dalam Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
Allah berfirman :
ُ كنتم خير ُأمّة ُأ  خرِجت للنّاسِ تأْم  رونَ بِالْمع  روف وتنهونَ عنِ الْ  منكَرِ وتؤمنونَ بِاللَّه
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar,
dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron : 110)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Amar ma’ruf
(mengajak kepada yang ma’ruf) dan nahi mungkar (mencegah dari
kemungkaran) merupakan sebab Allah menurunkan kitab-kitabNya
dan mengutus para rasul-Nya. Dan dia (amar ma’ruf nahi mungkar)
merupakan bagian dari agama.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu
‘anil Mungkar hal. 9. Sebagaimana dalam Haqiqotul Amri bil Ma’ruf
wan Nahyi ‘anil Mungkar, Syaikh Dr. Hamd Al ‘Ammar hal. 34-35)
Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk asas terpenting dalam
Islam karena hakekat Islam adalah melaksanakan kema’rufan
(kebaikan) dan meninggalkan kemungkaran, dan itu semua tidak
akan tegak bila tidak ada yang memerintahkan kepada yang ma’ruf
dan melarang dari kemungkaran.
Bila tidak ada amar ma’ruf, manusia akan meninggalkan
kewajiban agama yang dibebankan kepada mereka. Bila tidak ada
nahi mungkar, mereka akan bebas berbuat kemungkaran, baik
Kasih Sayang Manhaj Salaf
25
kesyirikan , kebid’ahan, maupun kemaksiatan, sebab tidak ada
yang melarang mereka.
Maka kami wasiatkan kepada setiap orang yang masih
memiliki semangat menjalankan agamanya, hendaknya mereka
memperhatikan asas ini serta menerapkannya, tentu diharuskan
berbekal ilmu syar’i terlebih dahulu. Hendaknya kita tidak hanya
beramar ma’ruf saja, namun kemudian meninggalkan nahi
mungkar dengan alasan yang dibuat-buat, semisal takut akan
membuat umat lari, perpecahan, pertikaian, dan sebagainya.
Hendaknya pula berbekal dengan ilmu syar’i sebelum
melakukannya. Janganlah seperti orang yang tidak tahu jalan tetapi
memberanikan diri menunjukkan jalan kepada orang lain, sehingga
menyesatkannya. Tidak mungkin orang yang tidak tahu dapat
memberi tahu orang lain.
Inilah kasih sayang manhaj salaf, mereka menunjukkan
umat kepada kebaikan, mencegah dari kemungkaran, dan itu
semua dilandasi dengan ilmu. Mereka tidak rela melihat saudara
mereka terjerumus ke dalam kebinasaan,
ما من رجلٍ يكون في قومٍ يعمل فيهم بالمعاصي يقدرون على أن يغيروا عليه فلا يغيروا
إلا أصام الّله بعذابٍ من قبل أن يموتوا
“Tidaklah seseorang berada di tengah kaum yang melakukan
kemaksiatan, dimana mereka mampu untuk merubah kemaksiatan
tersebut, namun tidak mau merubahnya, kecuali pasti Allah akan
menimpakan adzab kepada mereka sebelum mereka mati.” (HR.
Abu Daud, kitab Al Malahim. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani
dalam Shohih Sunan Abu Daud 3/819 no. 4339)
Kasih Sayang Manhaj Salaf
26
Keenam, Kasih Sayang Mereka Terhadap Ahlu Bid’ah.
Sebagian kalangan menganggap bahwa bantahan dan
nasehat salafiyyun kepada para pelaku kebid’ahan dan kesesatan
merupakan bentuk kekerasan, kebiadaban, serta merasa paling
benar sendiri.
Padahal demi Allah tidaklah demikian. Bantahan mereka
terhadap ahlul bid’ah merupakan wujud kasih sayang, dengan
beberapa alasan :
1. Agar mereka mau bertaubat, sehingga tidak mati dalam
keadaan membawa dosa bid’ah yang membinasakan.
2. Agar manusia mengetahui kebid’ahan mereka dan
menjauhinya, sehingga jumlah orang yang mengikuti
mereka di dalam kesesatan dapat terminimalisir. Karena
bila tidak, maka akan bertambah banyak dosa mereka.
Rasul bersabda :
من دعا إلى ضلالة، كان عليه من الإثم مثل آثام من تبعه، لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia
memikul dosa semisal dosa orang-orang yang mengikutinya,
tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim 2674,
Abu Daud 4609, At Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 206)
Bahkan di dalam bantahan ahlus sunnah terhadap ahlul
bid’ah sebenarnya terdapat kasih sayang terhadap seluruh kaum
muslimin, agar mereka tidak mengikuti ahlul bid’ah dalam
Kasih Sayang Manhaj Salaf
27
kesesatan. (Kasyfusy Syubuhat Al ‘Ashriyah hal. 102-103, dengan
perubahan)
Ketujuh, Kasih Sayang Mereka Terhadap Waliyyul Amr.
Wujud kasih sayang salafiyyun kepada waliyyul amr
(penguasa atau pemerintah) adalah ketaatan mereka terhadap
penguasa, baik ia seorang yang adil maupun lalim, serta
mendo’akan kebaikan bagi mereka.
Allah berfirman :
يا أَّيها الَّذين آمنوا أَطيعوا اللَّه وأَطيعوا الرّ  سولَ وُأولي الأ مرِ من ُ كم
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul
(Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisaa’ : 59)
Imam Ahmad berkata : “(Diantara pokok-pokok sunnah
ialah) mendengar dan taat kepada para pemimpin dan amirul
mukminin baik ia seorang yang baik maupun lalim.” (Ushulus
Sunnah hal. 64)
Berkata Imam Abu Utsman Ash Shobuni : “Ahlussunnah
menganjurkan untuk mendoakan penguasa agar mereka mampu
melakukan perbaikan, mendapatkan taufiq dari Allah, kesholihan,
serta menebarkan keadilan kepada rakyat.” (Aqidah As Salaf Ashhabul
Hadits hal. 106)
Mereka tidak mencabut ketaatan terhadap penguasa
meskipun ia seorang yang lalim, karena seratus tahun dipimpin
oleh penguasa yang lalim lebih baik daripada satu hari tanpa
penguasa. Bila tidak ada penguasa, manusia akan berbuat
seenaknya, saling menjatuhkan satu sama lain, saling memakan
harta satu sama lain secara zholim, saling membunuh, saling
berebut kekuasaan. Maka kerusakan yang diakibatkan sehari tanpa
Kasih Sayang Manhaj Salaf
28
pemimpin, itu lebih parah daripada kerusakan yang diakibatkan
seratus tahun dipimpin oleh seorang yang lalim.
Mereka tidak mencabut ketaatan selama pemimpin masih
menegakkan sholat. Rasul bersabda :
(يكون أمراء تشمئز منهم القلوب وتقشعر منهم الجلود) فقال رجل : أفلا نقاتلهم؟
قال : (لا ما أَقَاموا الصّلاةَ)
“Akan ada para pemimpin yang membuat hati takut, membuat
bulu kulit merinding6.” Seseorang bertanya,”Apakah kami boleh
memerangi mereka?” Beliau menjawab : “Tidak boleh, selama
mereka masih menegakkan sholat.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As
Sunnah 1077. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani tatkala
mengomentari hadits tersebut)
Mereka tidak mencabut ketaatan kecuali bila melihat
kekufuran yang jelas dari pemimpin, serta memiliki kemampuan
untuk mencabut kekuasaan. Ubadah bin Shomit mengatakan :
دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعناه. فكان فيما أخذ علينا، أن بايعنا على
السمع والطاعة، في منشطنا ومكرهنا، وعسرنا ويسرنا، وأثرة علينا. وأن لا ننازع الأمر
أهله. قال (إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان)
“Nabi menyeru kami, kemudian kami membaiat (mengucapkan
janji setia) kepada beliau. Diantara isi baiat yang Beliau
perintahkan kepada kami ialah : ‘Kami berbaiat untuk mendengar
dan taat (kepada pemimpin), baik di saat susah maupun senang, di
saat sempit maupun lapang, meskipun pemimpin menahan hak
kami7. Dan kami tidak boleh menggugat kekuasaan (berontak),
Rasul bersabda,” kecuali bila kalian melihat kekufuran yang jelas,
dimana kalian memiliki bukti yang nyata di sisi Allah”.” (HR.
6 Maksudnya : dikarenakan kezholiman mereka.
7 Al Atsaroh maknanya adalah sikap pemimpin yang memberikan hak hanya
kepada sebagian pihak, namun melupakan pihak lain.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
29
Bukhori Kitabul Fitan/6 no. 6647, Muslim Kitabul Imaroh/42 no.
1709)
Bila melihat kekufuran yang jelas pada diri penguasa,
namun tidak memiliki kemampuan untuk mencabut kekuasaan,
maka tidak boleh memberontak, terlebih lagi bila dengan
pemberontakan itu malah mengakibatkan kerusakan yang lebih
besar. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin berkata : “Akan
tetapi dengan syarat kita harus memiliki kemampuan. Bila kita
tidak memiliki kemampuan, maka tidak boleh memberontak.”
(Syarh Riyadhush Sholihin 4/515)
Ahlus sunnah juga memandang diharamkannya
mengumbar kesalahan pemimpin di depan umum, baik di atas
mimbar, podium, media massa, terlebih lagi dengan demonstrasi,
karena hal itu akan menyebabkan tidak dihargai dan ditaatinya
pemimpin. Bila pemimpin sudah tidak dihargai dan ditaati, maka
kerusakan yang terjadi tidak dapat dibayangkan. Rasulullah
bersabda :
من أهان سلطان الله في ال  دّنيا أهانه الله يوم الْقيامة
“Barangsiapa menghinakan pemimpin yang Allah pilih di dunia,
maka Allah akan membuat dia terhina pada hari kiamat.” (HR. At
Tirmidzi Al Fitan no. 2325, Ahmad 5/42,49. Dishohihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 2297)
Bila pemimpin memerintahkan kemaksiatan, maka tidak
boleh ditaati dalam hal ini, karena tidak diperbolehkan ketaatan
dalam hal maksiat. Namun tetap tidak boleh menggugat kekuasaan
kecuali bila melihat kekufuran yang jelas, sebagaimana diterangkan
pada hadits di muka. Rasul bersabda :
فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة
Kasih Sayang Manhaj Salaf
30
“Bila (seorang muslim) diperintahkan untuk melakukan
kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan taat.” (HR. Bukhori
Kitabul Ahkam 6725, Muslim Kitabul Imaroh 1839)
Kedelapan, Tidak Serampangan dalam Menuduh Orang Lain
dengan Kekafiran.
Diantara kasih sayang manhaj salaf ialah kehati-hatian
mereka dalam menuduh orang lain dengan tuduhan “kafir”.
Mereka tidak tergesa-gesa menvonis orang yang berbuat
kekufuran dengan vonis “kamu telah kafir” sebelum terpenuhi
syarat-syarat serta hilangnya penghalang-penghalang vonis
tersebut. Mereka takut kepada ancaman Rasulullah :
لا يرمي رجل رجلاً بالفسوق، ولا يرميه بالكفر، إلا ارتدت عليه، إن لم يكن صاحبه
كذلك
“Tidaklah seseorang menuduh saudaranya dengan tuduhan ‘fasik’
atau ‘kafir’, kecuali tuduhan itu akan kembali kepadanya bila
saudaranya tidak seperti yang ia tuduhkan.” (HR. Bukhori Kitabul
Adab bab 44 no. 5698, Ahmad 5/181)
Para ulama’ salaf sangat berhati-hati dalam masalah ini.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata tatkala membantah
tuduhan dusta bahwa beliau mudah mengkafirkan, serta tuduhan
bahwa beliau mengkafirkan orang yang tidak mau bergabung dan
berperang bersama beliau, dengan perkataanya : “Bila kami tidak
mengkafirkan para penyembah berhala yang ada di kuburan Abdul
Qodir, Ahmad Badawi, dan yang semisalnya, dikarenakan
kebodohan mereka dan tidak adanya orang yang menegur mereka;
maka bagaimana mungkin kami mengkafirkan orang yang tidak
berbuat syirik kepada Allah hanya karena ia tidak mau ikut-ikut
mengkafirkan dan berperang (bersama kami)??! Maha Suci Engkau
Kasih Sayang Manhaj Salaf
31
ya Allah, ini adalah kedustaan yang keji.” (Ad Duror As Saniyah
1/104)
Ahlus sunnah meyakini bahwa hanya para ulama’-lah yang
berhak dalam urusan mengkafirkan seorang muslim yang
melakukan kufur akbar (besar). Hal ini ditinjau dari beberapa sisi :
Pertama, dalam masalah kufur dan iman, pembahasannya
adalah mengenai ada dan tidaknya ashlul iman (pokok
penentu ada tidaknya iman itu sendiri), dan masalah
keimanan ini adalah masalah ushul. Sedangkan dalam
masalah halal dan haram, pembahasannya adalah
mengenai cabang-cabang dan bagian-bagian iman, serta
ibadah-ibadah yang dihukumi sah tidaknya dengan acuan
ada tidaknya ashlul iman, dan ini merupakan masalah furu’
(cabang). Apabila dalam masalah furu’ yang berhak terjun
(ijtihad) di dalamnya hanyalah para ulama’, maka
bagaimana lagi dalam masalah ushul? Tentu hanya mereka
yang berhak.
Kedua, Pengkafiran seorang muslim menghantarkan kepada
perkara-perkara besar dalam masalah hukum, seperti
keyakinan bahwa orang yang divonis kafir tersebut telah
murtad (keluar dari islam), wajibnya dia untuk dibunuh,
jatuhnya hak kewaliannya, haramnya untuk menikah
dengannya dan memakan sembelihannya, larangan untuk
waris-mewarisi, larangan mensholati jenazahnya, larangan
mendo’akan rahmat dan ampunan untuknya, serta
anggapan bahwa bila ia mati –dalam keadaan belum
bertaubat- maka Allah tidak akan mengampuninya dan ia
kekal selamanya di neraka, tidak bermanfaat baginya do’a
dan syafa’at. Maka kesalahan dalam masalah pengkafiran
akibatnya lebih berbahaya daripada kesalahan dalam
masalah furu’ lainnya, serta akan mengakibatkan mafsadahKasih
Sayang Manhaj Salaf
32
mafsadah yang sangat banyak. Karena itulah, lebih berhak
untuk kita katakan bahwa masalah pengkafiran hanyalah
para ulama’ yang berhak terjun di dalamnya.
Ketiga, Masalah pengkafiran termasuk masalah besar yang
rumit bagi kebanyakan manusia, bahkan bagi sebagian
ulama’. Ini disebabkan karena sebagian mereka salah
dengan tidak membedakan antara pengkafiran secara
mutlak dan secara ta’yin (kepada orang tertentu). Serta
sebab-sebab lain yang sangat rumit dalam masalah ini (At
Takfir wa Dhowabithuhu hal. 300-301 –dengan sedikit
perubahan)
Keempat, Dalam masalah pengkafiran, harus diketahui
terlebih dahulu apakah perbuatan yang dilakukan oleh
seorang muslim tersebut termasuk kufur akbar (besar) yang
dapat mengeluarkannya dari Islam ataukah tidak. Dan
masalah ini tidak diketahui pula oleh kebanyakan manusia.
Kelima, Harus diketahui syarat-syarat yang harus dipenuhi
serta hilangnya penghalang-penghalang dalam masalah
pengkafiran. Sedangkan pada setiap orang, bisa jadi
penghalangnya berbeda-beda, dan ini merupakan masalah
yang sangat rumit dimana hanya para ulma’-lah yang
berhak berijtihad di dalamnya. (Tahdzib Tas-hil al Aqidah al
Islamiyah hal. 103 –dengan sedikit perubahan)
Kesimpulannya, masalah mengkafirkan seorang muslim
pelaku kufur akbar adalah masalah besar yang tidak boleh terjun di
dalamnya kecuai para ulama’ yang telah kokoh ilmunya.
Kesembilan, Kasih Sayang Mereka Terhadap Para Sahabat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Dan diantara pokok
ahlus sunnah wal jama’ah ialah selamatnya hati dan lesan mereka
Kasih Sayang Manhaj Salaf
33
dari (menjelekkan) para sahabat Rasulullah, sebagaimana Allah
mensifati mereka (ahlus sunnah) dalam firmannya :
والَّذين جاءُوا من بعدهم يقُوُلونَ ربّنا اغْفر لَنا ولإخوانِنا الَّذين سبُقونا بِالإيمان ولا تجعلْ
في ُقُلوبِنا غلا للَّذين آمنوا ربّنا إِنّك رءُوف رحيم
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Ansar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami,
dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya
Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al Hasyr :
10)
Dan mereka mentaati sabda Rasul :
لا تسبوا أصحابي. لا تسبوا أصحابي. فوالذي نفسي بيده! لو أن أحدكم أنفق مثل أحد
ذهبا، ما أدرك مد أحدهم، ولا نصيفه
“Janganlah kalian mencela sahabatku, janganlah kalian mencela
sahabatku. Demi Dzat Yang jiwaku ada ditangan-Nya! Seandainya
salah seorang dari kalian berinfaq sebesar Gunung Uhud berupa
emas, maka tidak akan dapat menyamai infaq satu atau setengah
mud8 dari mereka.”9 (Al ‘Aqidah Al Wasithiyah hal. 32)
Kesepuluh, Kasih Sayang Mereka Kepada Ahlu Bait.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Dan mereka (ahlus
sunnah) mencintai ahlul bait (keluarga dan keturunan) Rasulullah,
mengasihi mereka, serta menjaga wasiat Rasulullah yang
8 Mud : takaran seukuran dua telapak tangan orang Arab yang disatukan.
9 HR. Bukhori 3362, Muslim 2541.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
34
memerintahkan untuk berbuat baik kepada mereka, dimana Beliau
bersabda pada hari Ghodir Khum10 :
أذكركم الله في أهل بيتي
“Aku ingatkan kalian akan perintah Allah untuk berbuat baik
terhadap ahlu bait-ku.”11 (Al Aqidah Al Wasithiyah hal. 34)
Beliau menambahkan : “Dan mereka (ahlus sunnah)
mencintai istri-istri Rasulullah, yaitu para ibunda kaum yang
beriman. Dan ahlus sunnah meyakini bahwa mereka adalah para
istri Rasulullah di akherat kelak.” (Al Aqidah Al Wasithiyah hal. 34)
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata :
“Diantara pokok-pokok (aqidah) ahlus sunnah wal jama’ah ialah
mereka mencintai ahlul bait Rasulullah, cinta karena dua hal :
keimanan (ahlul bait)12 dan kekerabatan mereka dengan
10 Ghodir Khum : Sebuah tempat kumpulan air yang Rasulullah singgahi sepulang
dari Haji Wada’. Di tempat tersebut Beliau berkhutbah di hadapan para sahabat,
diantara isinya adalah hadits di atas.
11 HR. Muslim no. 2408.
12 Adapun terhadap orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi, akan tetapi
malah mengotori keimanannya dengan perbuatan syirik dan bid’ah, maka Ahlus
sunnah berpaling darinya. Sebagaimana Allah telah menegaskan kepada Nabi
Nuh -yang memohonkan keselamatan puteranya kepada Allah serta mengatakan
bahwa ia termasuk keluarga Beliau- dengan firman-Nya :
ونادى نوح ربّه فَقَالَ ربِّ إِنَّ ابنِي من أَهلي وِإنَّ وعدك الْ  ح ّ ق وأَنت أَحكَ  م الْحاكمين .قَالَ يا نو  ح ِإّنه
لَيس من أَ  هلك إِنّه ع  ملٌ غَي  ر صال ٍ ح فَلا تسأَلْنِي ما لَيس لَك بِه علْم إِنِّي أَ  ع ُ ظك َأنْ ت ُ كونَ من الْجا  هلين
“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya
anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar.
Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.’ Allah berfirman: ‘Hai Nuh,
sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya
(perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon
kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya
Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang
yang tidak berpengetahuan’.” (QS. Hud : 45-46)
Kasih Sayang Manhaj Salaf
35
Rasulullah. Ahlus sunnah tidak membenci mereka selamanya.”
(Syarh Al’Aqidah Al Wasithiyyah hal.608)
Kesebelas, Kasih Sayang Mereka Kepada Para Ulama’ Ahlus
Sunnah.
Salafiyyun mencintai para ulama’ ahlus sunnah baik dari
kalangan pendahulu maupun belakangan. Mereka mengamalkan
sabda Rasulullah :
ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan
orang tua kalangan kami (Islam), tidak menyayangi anak kecil,
serta tidak mengetahui hak-hak ulama’ kami (Islam).” (HR. Ahmad
dan selainnya. Dihasankan oleh Al Mundziri, juga Al Albani dalam
Shohih At Targhib wat Tarhib 95)
Imam Ath Thohawi berkata : “Dan para ulama’ salaf dari
kalangan terdahulu, dan orang-orang setelah mereka yang
mengikuti mereka dengan baik –yaitu ahlul khoir dan atsar, ahli
fiqih dan nazhor- maka mereka semua tidak boleh disebut kecuali
dengan pujian. Barangsiapa yang menyebut mereka dengan
kejelekan, maka ia tidak berada di atas jalan yang lurus.” (Al Aqidah
Ath Thohawiyah hal. 30)
Keduabelas, Kasih Sayang Mereka Terhadap Manusia Secara
Umum.
Mereka menyeru manusia kepada kebaikan dan melarang
dari kejelekan, menunjukkan kepada mereka agama yang lurus,
menjelaskan jalan-jalan kebatilan agar manusia menghindar dan
waspada. Itu semua diiringi dengan cara yang baik lagi lemah
lembut. Rasulullah bersabda :
إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه. ولا ينزع من شيء إلا شانه
Kasih Sayang Manhaj Salaf
36
“Sesungguhnya tidaklah kelembutan berada pada sesuatu kecuali
akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali
akan merusaknya.” (HR. Muslim 2594)
Meskipun terkadang sikap keras dalam mengingkari
kemungkaran itu perlu, setelah menimbang antara mashlahat dan
madhorot yang ada. Rasulullah pun pernah bersikap keras tatkala
melihat seorang sahabatnya (laki-laki) yang memakai cincin emas,
Beliau melepas cincin tersebut dan membuangnya13. Dan masih
banyak lagi hadits yang menunjukkan hal itu. Namun yang perlu
diingat, sikap dakwah secara asal adalah dengan lemah lembut,
dan semua harus dilandasi dengan pertimbangan antara mashlahat
dan madhorot yang matang.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Ahlus sunnah ialah
orang-orang yang paling tahu akan kebenaran lagi paling sayang
terhadap makhluk.” (Minhajus Sunnah 5/158)
Syaikh Al Albani berkata : “Orang yang paling berhak kita
gunakan sikap hikmah ini kepadanya adalah orang yang paling
keras permusuhannya terhadap kita, baik pada dasar-dasar
(dakwah) kita ataupun menyelisihi aqidah kita. Sehingga kita tidak
menggabungkan beratnya dakwah yang benar –yang telah Allah
karuniakan kepada kita- dengan beratnya metode yang buruk
dalam berdakwah kepada Allah. Oleh karenanya saya mengharap
kepada semua ikhwah di seluruh negeri Islam agar mereka beradab
dengan adab-adab Islami ini, kemudian mereka mengharapkan
wajah Allah tatkala mengamalkan adab-adab ini, tidak mengharap
balas jasa atau ucapan terima kasih.” (Lerai Pertikaian Sudahi
Permusuhan hal. 260-261)
Inilah diantara pokok dan ciri manhaj salaf yang dapat kami
kumpulkan. Sebagai penutup, kami nukilkan ucapan emas Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah : “Tidak ada cela bagi orang yang
13 HR. Muslim 2090.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
37
menampakkan madzhab salaf, mengikuti dan menisbatkan diri
kepada madzhab salaf tersebut. Bahkan wajib menerima hal itu
darinya. Karena sesungguhnya madzhab salaf tidaklah ia kecuali
kebenaran.” (Majmu’ Al Fatawa 4/149)
Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang
bangga dengan manhaj salaf, serta menjadikan kita pengikut para
salafush sholih yang sebenarnya. Amin…
Muhammad bin Badr Al Umari
Semoga Allah mengampuninya, kedua
orang tuanya, para gurunya, serta kaum
muslimin semuanya.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
38
Maroji’
1. Al Qur’anul Karim
2. Kitab-kitab hadits : Shohih Bukhori, Shohih Muslim, Sunan
Abu Daud, Sunan At Tirmidzi, Sunan Ibnu majah, Sunan An
Nasa’i, Musnad Ahmad, dan lainnya.
3. ‘Aqidah As Salaf Ash-habul Hadits, Imam Abu Utsman Ash
Shobuni (wafat 449H). Tahqiq : Syaikh Badr bin Abdillah Al
Badr. Maktabah Al Ghuroba’ Al Atsariyah, Madinah An
Nabawiyah.
4. Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
(wafat 721H), Cet. 1 Dar Ibnul Atsir, Riyadh, KSA.
5. Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thohawi
(wafat 321H), Cet. 1 Muassasah Ar Resalah, Beirut,
Lebanon.
6. Al I’tishom, Imam Asy Syathibi, Darul Kutub, Beirut,
Lebanon.
7. Al Mulakh-khosh fi Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Dr. Sholih
bin Fauzan Al Fauzan, Darul ‘Ashimah.
8. Al Wajiz fi ‘Aqidatis Salafish Sholih, Syaikh Abdullah bin
Abdul Hamid Al Atsari, Cet. 2, Dar Ar Royah, Riyadh, KSA.
9. At Takfir wa Dhowabithuhu, Syaikh Prof. Dr. Ibrohim bin
‘Amir ar Ruhaili. Cet 2, 1428 H, Darul Imam Ahmad, Kairo.
10. Basho’ir Dzawisy Syarof bi Syarhi Marwiyat Manhajis Salaf,
Syaikh Salim bin Ied Al Hilali, Cet. 2, Maktabah Al Furqon.
11. Haqiqoh Al Amri bil Ma’ruf wan Nahyi ‘anil Mungkar, Syaikh
Dr. Hamd bin Nashir Al ‘Ammar, Dar Isybiliya.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
39
12. Ilmu Ushulil Bida’, Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi, Cet. 2, Dar
Royah, Riyadh, KSA.
13. Kasyfusy Syubuhat Al ‘Ashriyyah ‘anid Da’wah Al
Ishlahiyyah As Salafiyyah, Syaikh Abdul Aziz bin Royyis Ar
Royyis, Cet. 1, Darul Imam Ahmad, Kairo.
14. Kun Salafiyyan ‘alal Jaadah, Syaikh Dr. Abdus Salam bin
Salim As Suhaimi, Cet. 1 Darul Minhaj, Kairo.
15. Lammud Durril Mantsur, Syaikh Abu Abdillah Jamal Al
Haritsi, Cet. 1, Darus Salaf, Riyadh, KSA.
16. Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan, Abu Abdil Muhsin
Firanda ibnu Abidin. Pustaka Cahaya Islam, Bogor,
Indonesia.
17. Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi, Syaikh Salim bin Ied
Al Hilali, Cet. 1, Markaz Ad Dirosat Al Manhajiyah As
Salafiyah.
18. Nashihatun lisy Syabab, Syaikh Prof. Dr. Ibrohim bin ‘Amir
Ar Ruhaili.
19. Syarh Al’Aqidah Al Wasithiyyah (Majmu’ Fatawa wa
Rosa’il). Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin. Cet. 2
Dar Ats Tsurayya, Riyadh, KSA.
20. Syarh Riyadhush Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al
‘Utsaimin, Cet. 1, Darul Wathon, KSA.
21. Syarhul ‘Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Dr. Sholih bin
Fauzan Al Fauzan, Cet. Th. 1418 H, Jami’ah Imam
Muhammad bin Su’ud Al Islamiyah, KSA.
22. Syarhul Arba’in An Nawawi, Syaikh Muhammad bin Sholih
Al ‘Utsaimin, Darul ‘Aqidah, Kairo.
Kasih Sayang Manhaj Salaf
40
23. Tahdzib Tas-hil al Aqidah al Islamiyah, Syaikh Prof. Dr.
Abdulloh bin Abdul Aziz al Jibrin. Cet 1, 1425 H.
24. Taisirul Karimir Rohman (Tafsir As Sa’di), Syaikh Abdur
Rohman bin Nashir As Sa’di, Cet. 1, Dar Ibnu Hazm, Beirut,
Lebanon.
25. Ushulus Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal. Syarah dan
tahqiq : Syaikh Al Walid Saifun Nashr. Cet. 1, Maktabah
Ibnu Taimiyah, Kairo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: