TIGA LANDASAN UTAMA

 

 

 

 

 

الأصول الثلاثة

TIGA   LANDASAN UTAMA

 

Oleh :

Syaikh Muhammad At-Tamimi

Alih bahasa

Muhammad Yusuf Harun, MA.

Editor :

Munir F. Ridwan

Muh. Mu’inudinillah, MA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

P e n d a h l u a n………………………………………………………………3

  1. Mengenal Allah Azza wa jalla………………………………………….….6
  2. Mengenal Islam……………………………………………………………12
  3. Mengenal Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam……………….18

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم

 

PENDAHULUAN

 

Saudaraku,

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.

Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu :

  1. Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.
  2. Amal, yaitu menerapkan ilmu ini.
  3. Sabar, yaitu tabah dan tangguh dalam mengahadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan berdakwah kepadanya.

Dalilnya, firman Allah Ta’ala :

}والعصر (1)  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2)إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ{ سورة العصر

“Demi masa. Sesungguhya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan segala amal shaleh dan saling nasehat-menasehati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar.” (surah al-‘Ashr : 1-3).

 

Imam Asy-Syafi’i ([1]) Rahimahullahu Ta’ala, mengatakan : “Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhlukNya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.”

Dan imam Al-Bukhari ([2]) Rahimahullahu Ta’ala, mengatakan : “Bab : ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan. Dalilnya firman Allah Ta’ala :

] فاعلم أنه لا إله إلا الله واستغفر لذنبك  [

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada sesembahan (yang

haq) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan)… ([3]) Sebelum ucapan dan perbuatan.

Saudaraku,

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda.

Dan ketahuilah, bahwa wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini:

  1. Bahwa Allah-lah yang menciptakan kita dan memberi rizki kepada kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja dalam kebingungan, tetapi mengutus kepada kita seorang Rasul ; maka barangsiapa mentaati Rasul tersebut pasti akan masuk sorga, dan barangsiapa menentangnya pasti akan masuk neraka.

Allah Ta’ala berfirman:

]إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا(15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا [ سورة المزمل  .

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus kapada fir’aun seorang Rasul, tetapi fir’aun mendurhakai Rasul itu, maka kami siksa ia dengan siksaan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 15-16).

  1. Bahwa Allah tidak rela, jika dalam ibadah yang ditujukan kepadaNya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu apapun, baik dengan seorang malaikat yang terdekat atau dengan seorang Nabi yang diutus menjadi Rasul. Firman Allah Ta’ala :

 

]وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحدا [

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, karena itu janganlah kamu menyembah seorangpun di dalamnya di samping (menyenbah) Allah.” (QS.  Al-Jin : 18).

 

  1. Bahwa barangsiapa yang mentaati Rasulullah serta mentauhidkan Allah, tidak boleh bersahabat dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya, sekalipun mereka itu keluarga terdekat. Allah Ta’ala berfirman :

 

]لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ (22) سورة المجادلة.

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasulnya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah memantapkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan dariNya. Dan mereka akan dimasukkanNya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (Surah al-Mujdalah: 22).

Saudaraku,

Semoga Allah membimbing anda untuk taat kepadanya.

Ketahuilah bahwa Islam yang merupakan tuntunan Nabi Ibrahim adalah ibadah kepada Allah semata dengan memurnikan ibadah kepadaNya, itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh ummat manusia dan hanya untuk itu sebenarnya mereka diciptakan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala :

]وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون[.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku.” (QS.  Az-Zariyat : 56).

Ibadah, dalam ayat ini, artinya : tauhid. Dan perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah untuk Allah semata-mata. Sedang larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu : menyembah selain Allah di samping menyembahNya.

Allah Ta’ala berfirman :

]واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا[

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu denganNya.” (QS. An-nisa; : 36).

Kemudian apabila anda ditanya : apakah tiga landasan utama yang wajib diketahui oleh manusia? Maka hendaklan anda jawab : yaitu mengenal Tuhan Allah Azza wa Jalla, mengenal agama Islam, dan mengenal Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.

 

 

 

MENGENAL ALLAH

Azza wa Jalla

 

Apabila anda ditanya : siapakah Tuhanmu?, Maka katakanlah: Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala ni’mat yang dikaruniakannya. Dan Dialah sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang haq selain Dia.

 

 

 

Allah Ta’ala berfirman :

]الحمد لله رب العالمين[.

“Segala puji hanya milik Allah Pemelihara semesta alam.” (QS. Al-fatihah : 1).

Semua yang ada selain Allah disebut alam, dan aku adalah bagian dari semesta alam ini.

Selanjutnya, jika anda ditanya : melalui apa anda mengenal Tuhan? Maka hendaklah anda jawab : melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya. Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah : malam, siang, matahari dan bulan. Sedang diantara ciptaan-Nya ialah : tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.

 

]ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر لا تسجدوا للشمس ولا للقمر واسجدوا لله الذي خلقهن إن كنتم إياه تعبدون[.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula kamu bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu banar-benar hanya kepadanya beribadah.” (QS.  fussilat : 37).

 

Dan firmanNya :

]إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[(54) سورة الأعراف.

“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang, senantiasa mengikutinya dengan cepat. Dan Dia (ciptakan pula) matahari dan bulan serta bintang-bintang (semuanya) tunduk kepada perintah-Nya. Ketahuilah hanya hak Allah mencipta dan memerintah itu. Maha suci Allah Tuhan semesta alam.” (surah Al-A’raf : 54).

 

Tuhan inilah yang haq untuk disembah. Dalilnya, firman Allah Ta’ala:

]يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون  الذي جعل لكم الأرض فراشا والسماء بناء وأنزل من السماء ماء فأخرج به من الثمرات رزقا لكم فلا تجعلوا لله أندادا وأنتم تعملون [.

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Robb) yang telah menjadikan untukmu bumi ini sebagai hamparan dan langit sebagai atap, serta menurunkan (hujan) dari langit, lalu dengan air itu Dia menghasilkan segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mngetahui.” (surah Al-Baqarah: 21-22).

 

Ibnu katsir ([4]) Rahimahullahu Ta’ala, mengatakan : hanya pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak dengan segala macam ibadah([5]).

Dan macam-macam ibadah yang diperintahkan Allah itu, antara lain: Islam ([6]), Iman, Ihsan, do’a, khauf (takut), raja’ (pengharapan), tawakkal, raghbah (penuh minat), rahbah (cemas), khusyu’ (tunduk), khasyyah (takut), inabah (kembali kepada Allah), isti’anah (memohon pertolongan), isti’azah (memohon perlindungan), istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan), dzabh (menyembelih), nazar, dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Allah.

 

Allah Subahanahu wata’ala berfirman :

 

]وأن المساجد لله فلا تدعوا مع الله أحدا[.

“Dan sesungguhnya masji-masjid itu adalah kepunyaan Allah, karena itu, janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah Allah).” (QS.  Al-Jin: 18).

 

Karena itu, barangsiapa yang menyelewengkan ibadah tersebut untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Firman Allah Ta’ala :

]ومن يدع مع الله إلها آخر لا برهان به فإنما حسابه عند ربه  إنه لا يفلح الكافرون[.

“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain di samping (menyembah) Allah, padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang itu, maka benar-benar balasannya ada pada Tuhannya. Sungguh tiada beruntung orang-orang kafir itu.” (QS. Al-Mu’minun: 117).

 

Dalil macam-macam ibadah:

  1. Dalil do’a :

firman Alah Ta’ala :

]وقال ربكم ادعوني أستجب لكم  إن الذين يستكبرون عن عبادته سيدخلون جهنم داخرين[.

“Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdo’alah kamu kepadaku niscaya akan Ku perkenankan bagimu’. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beibadah kepadaKu pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60).

 

Dan diriwayatkan dalam hadits :

” الدعاء مخ العبادة “.

“Do’a itu adalah sari ibadah ([7]).

 

  1. Dalil khauf (takut) :

Firman Allah Ta’ala :

]فلا تخافوهم وخافوني إن كنتم مؤمنين[.

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175).

  1. Dalil Raja’ (pengharapan) :

Firman Allah Ta’ala :

]فمن كان يرجوا لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا[.

“Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robb-Nya.” (QS.  Al-Kahfi: 110).

 

  1. Dalil Tawakkal (berserah diri) :

Firman Allah Ta’ala :

]وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين[.

‘Dan hanya kepada Allah-lah kamu betawakkal, jika kamu benar-banar orang yang beriman.” (QS.  Al-Maidah : 23).

 

Dan firmannya :

]ومن يتوكل على الله فهو حسبه [.

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dialah Yang Mencukupinya.” (QS.  Ath-Thalaq : 3).

 

  1. Dalil Raghbah (penuh minat), rahbah (cemas) dan khusyu’ (tunduk) ;

Firman Allah Ta’ala :

]إنهم كانوا يسارعون في الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وكانوا لنا خاشعين[.

“Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan serta mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh minat (kepada rahmat Kami) dan cemas (akan siksa Kami), sedang mereka itu selalu tunduk hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’ : 90).

 

  1. Dalil khasy-yah (takut) :

Firman Allah Ta’ala :

]فلا تخشوهم واخشوني[.

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS.  Al-Baqarah : 150).

 

  1. Dalil inabah (kembali kepada Allah) :

Firman Allah Ta’a’ala :

]وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون[.

“Dan kembalilah kepada Robb kalian serta berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya) sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak  dapat tertolong lagi.” (QS. Az-Zumar : 54).

 

  1. Dalil isti’anah (memohon pertolongan) :

Firman Allah Ta’ala :

]إياك نعبد وإياك نستعين[.

“Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah : 4).

 

Dan diriwayatkan dalam hadits :

” إذا استعنت فاستعن بالله “.

“Apabila kamu mohon pertolongan, maka memohonlah pertolongan kepada Allah” ([8]) .

 

  1. Dalil isti’adzah (memohon perlindungan) :

Firman Allah Ta’ala :

]قل أعوذ برب الفلق[.

“Katakanlah : Aku berlindung kepada Robb Yang Menguasai subuh.” (QS. Al-Falaq : 1).

 

Dan firmanNya :

]قل أعوذ برب الناس. ملك الناس[.

“Katakanlah : ‘Aku berlindung kepada Robb Manusia, Penguasa manusia.” (QS.  An-Nas : 1-2).

 

  1. Dalil istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan) :

Firman Allah Ta’ala :

]إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم[.

“(Ingatlah) tatkala kamu memohon pertolongan kepada Robb kalian untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin), lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS.  Al-Anfal : 9).

 

  1. Dalil dzabh (menyembelih) :

Firman Allah Ta’ala :

]قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين. لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين[.

“Katakanlah : ‘Sesunggunya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Robb semesta alam, tiada sesuatupun sekutu bagi-Nya. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang-orang yang pertama kali berserah diri (kepadanya).” (QS.  Al-An’am: 162-163).

 

Dan dalil dari sunnah :

” لعن الله من ذبح لغير الله “.

“Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) bukan karena Allah” ([9]).

 

  1. Dalil nadzar :

Firman Allah Ta’ala :

]يوفون بالنذر ويخافون يوما كان شره مستطيرا[.

“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang siksaannya merata di mana-mana.” (QS.  Al-Insan : 7).

MENGENAL ISLAM

 

Islam, ialah berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan  penuh kepatuhan pada segala perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang yang berbuat syirik.

Dan agama Islam, dalam pengertian tersebut mempunyai tiga tingkatan, yaitu : Islam, Iman dan Ihsan; masing-masing tingkatan ada rukun-rukunnya.

 

Tingkatan pertama : Islam.

 

Adapun tingkatan Islam, rukunnya ada lima :

  1. Syahadat (pengakuan dengan hati dan lisan) bahwa : “Laa Ilaaha Illallaah – Muhammad Rasulullah” (tiada sesembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).
  2. Mendirikan shalat.
  3. menunaikan zakat.
  4. puasa pada bulan Ramadhan.
  5. dan Haji ke Baitullah Al-Haram.

 

Dalil syahadat :

Firman Alah Ta’ala :

]شهد الله أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولو العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم[.

“Allah menyatakan bahwa tiada sesembahan (yang haq) selain Dia, dengan senantiasa menegakkan keadilan. (juga menyatakan yang demikian itu) para Malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tiada sesembahan (yang haq) selain dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.  Ali-Imran : 18).

 

“Laa Ilaaha Illallah”, artinya : tiada sesembahan yang haq selain Allah.

 

Syahadat ini mengandung dua unsur. Menolak dan menetapkan. “La Ilaaha”, adalah menolak segala sembahan selain Allah, “Illallah”, adalah menetapkan bahwa ibadah (penghambaan) itu hanya untuk Allah semata, tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam ibadah kepada-Nya, sebagaimana tiada sesuatu apapun yang boleh dijadikan sekutu di dalam kakuasaan-Nya.

Tafsir makna syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Ta’ala:

]وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27) سورة الزخرف وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ[ سورة الزخرف.

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kepada kaumnya : ‘Sesungguhnya aku menyatakan lapas diri dari segala yang kamu sembah, kecuali Tuhan yang telah menciptakanku, kerena sesungguhnya Dia akan memberiku petunjuk. ‘Dan (Ibrohim) mejadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka senantiasa kembali (kepada tauhid).” (QS. Az-Zukhruf : 26-28).

 

Dan firman Allah Ta’ala :

]قل يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم ألا نعبد إلا الله ولا نشرك به شيئا ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله فإن تولوا فقولوا اشهدوا بأنا مسلمون[.

“Katakanlah (Muhammad) : ‘Hai Ahli Kitab! Marilah kamu kepada suatu kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, yaitu : hendaklah kita tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya serta janganlah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka : ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang muslim (menyerah diri kepada Allah).” (QS.  Ali Imran : 64).

 

Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad itu Rasulullah, adalah firman Allah Ta’ala :

]لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ[ (128) سورة التوبة.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri, terasa berat olehnya penderitaanmu, sangat mengiginkan (keimanan dan keselamatan) untukmu, amat belas kasih lagi penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS.  At-Taubah : 128).

 

Syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah, berarti : mentaati apa yang diperintahkannya, membenarkan apa yang diberitakannya, menjauhi apa yang dilarang serta dicegahnya, dan beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkannya.

 

Dalil shalat, zakat dan tafsir kalimat tauhid :

Firman Allah Taala :

]وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة[.

“Padahal mereka tidaklah diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah, dengan memurnikan ketaatan kapada-Nya lagi bersikap lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta mengeluarkan zakat. Demikian itulah tuntunan agama yang lurus.” (QS.  Al-Bayyinah : 5).

 

 

 

Dalil shiyam :

Firman Allah Ta’ala :

]يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون[.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu untuk melakukan shiyam, sebagaimana telah diwajibkan kapada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183).

 

Dalil Haji :

Firman Allah Ta’ala :

]ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا ومن كفر فإن الله غني عن العالمين[.

“Dan hanya untuk Allah, wajib bagi manusia melakukan haji, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Dan barangsiapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan) semesta alam.” (QS.  Ali Imran : 97).

 

 

Tingkatan kedua : Iman.

 

Iman itu lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi ialah syahadat. “ La Ilaha Illallah”, sedang cabang yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah salah satu cabangnya iman.

Rukun iman ada enam yaitu :

  1. Iman kepada Allah.
  2. Iman kepada para Malaikat-Nya.
  3. Iman kepada kitab-kitab-Nya.
  4. Iman kepada para Rasul-Nya.
  5. Iman kepada hari akhirat, dan
  6. Iman kepada qadar ([10]), yang baik maupun yang buruk.

 

Dalil ke enam rukun ini, firman Allah ta’aala :

]ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله والملائكة والكتاب والنبيين[.

“Berbakti (dan beriman) itu bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu (dalam shalat) ke arah timur dan barat, tetapi berbakti (dan beriman) yang sebenarnya ialah iman seseorang kepada Allah, hari akhirat, para malalikat, kitab-kitab dan Nabi-Nabi…” (QS.  Al-Baqarah : 177).

 

Dan firman Allah ta’aala :

]إنا كل شيء خلقناه بقدر[

“Sesngguhnya segala sesuatu telah Kami ciptakan sesuai dengan qadar.” (QS. Al-Qamar : 49).

 

 

Tingkatan ketiga : Ihsan.

Ihsan, rukunnya hanya satu, yaitu :

]أن تعبد الله كأنك تراه, فإن لم تكن تراه فإنه يراك[.

“Beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihatNya. Jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” ([11]).

Dalilnya, firman Allah ta’aala :

]إن الله مع الذين اتقوا والذين هم محسنون[

“Sesunggunya Allah besama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS.  An-Nahl : 128 )

]وتوكل على العزيز الرحيم  الذي يراك حين تقوم  وتقلبك في الساجدين إنه هو السميع العليم[

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan (melihat) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetehui.” (QS.  Asy-syuaraa’ : 217-220).

]وما تكون في شأن وما تتلوا منه من قرآن ولا تعملون من عمل إلا كنا عليكم شهودا إذ تفيضون فيه[

“Dalam keadaan apapun kamu berada, dan (ayat) apapun dari Al-Qur’an yang kamu baca, serta pekerjaan apapun yang kamu kerjakan, tidak lain kami adalah menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…”. (QS.  Yunus : 61).

Adapun dalilnya dari sunnah, ialah hadits jibril ([12]) yang masyhur, yang diriwayatkan dari Umar bin Al-Khattab rodhiallohu ‘anhu :

“Ketika kami sedang duduk di sisi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba muncul ke arah kami seorang laki-laki, sangat putih pakaiannya, hitam   pekat rambutnya tidak tampak pada tubuhnya tanda-tanda sehabis dari bepergian jauh dan tiada seorangpun diantara kami  yang mengenalnya. Lalu orang itu duduk di hadapan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, dan berkata :

يا محمد, أخبرني عن الإسلام!

“Ya Muhammad, beritahulah aku tentang Islam!”.

Maka Nabi menjawab :

أن تشهد أن لا إله إلا الله وان محمدا رسول الله وتقيم الصلاة, وتؤتي الزكاة,وتصوم رمضان, وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

“Yaitu : bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah serta Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melakukan shiyam pada bulan Ramadhan dan melaksanakan haji ke Baiullah jika mampu untuk mengadakan perjalanan ke sana.”

Lelaki itupun berkata :

صدقت

“Benarlah engkau.”

Kata Umar : “Kami merasa heran kepadanya, ia bertanya kepada beliau, tetapi juga membenarkan beliau.” Lalu ia berkata :

أخبرني عن الإيمان!

“Beritahu aku tentang iman!”

Beliau menjawab :

أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره

“Yaitu : beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rsul-Nya dan hari akhirat serta beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk.”

Orang itu pun berkata lagi : “Benarlah engkau.” Kemudian ia berkata :

اخبرني عن الإحسان!

“Beritahu aku tentang ihsan!”

Beliau mejawab :

أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

“Yaitu : beribadahlah kepada Allah dalam keadaan seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu  tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ia berkata lagi :

أخبرني عن الساعة!

“Beritahulah aku tentang waktu kiamat!”

beliau menjawab :

ما المسؤول عنها بأعلم من السائل

“Orang yang ditanya tentang hal tersebut tidak lebih tahu daripada orang yang menanyakannya.”

Maka  orang itupun berkata :

أخبرني عن أماراتها!

“Beritahulah aku (sebagian dari) tanda-tanda kiamat itu!”

beliau mejawab :

أن تلد الأمة ربتها, وأن ترى العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان

“Yaitu : apabila ada budak  wanita melahirkan tuan puterinya dan apabila kamu melihat orang-orang tak beralas kaki, tak berpakaian sempurna, melarat lagi penggembala domba, saling bangga-membanggakan diri dalam membangun bangunan yang tinggi.”

Kata Umar : “Lalu pergilah orang laki-laki itu, sementara kami berdiam diri saja dalam waktu yang lama, sehingga Nabi bertanya  :

يا عمر, أتدري من السائل؟

“Hai Umar! Tahukah kamu, siapakah orang yang bertanya itu?”

aku menjawab : “Allah dan rasulnya lebih mengetahui.”

Beliau pun bersabda :

هذا جبريل, أتاكم يعلمكم أمر دينكم

“Dia adalah jibril, telah datang kepada kalian  untuk mengajarkan urusan agama kalian.” ([13]).

 

MENGENAL NABI MUHAMMAD

shollallohu ‘alihi wa sallam

 

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah, bin Abdul Mutthalib, bin Hasyim. Hasyim adalah termasuk suku Quraisy, suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedang bangsa Arab termasuk keturunan Nabi Ismail, putera Nabi Ibarahim Al-Khalil. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan  kepada Nabi kita sebaik-baik shalawat dan salam.

Beliau berumar 63 tahun; diantaranya 40 tahun sebelum beliau menjadi Nabi dan 23 tahun sebagai Nabi serta Rasul.

Beliau diangkat sebagai Nabi dengan “iqra” ([14])dan diangkat sebagai Rasul dengan surah “Al- Mudatssir.”

Tempat asal beliau adalah Makkah.

Beliau diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid. Firman Allah ta’aala :

 

]يا أيها المدثر  قم فأنذر  وربك فكبر  وثيابك فطهر  والرجز فاهجر ولا تمنن تستكثر ولربك فاصبر[.

“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu sampaikanlah peringatan. Agungkanlah Robbmu. Sucikanlah pakaianmu. Tinggalkanlah berhala-berhala itu. Dan janganlah kamu memberi, sedang kamu menginginkan balasan yang lebih banyak. Serta bersabarlah untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu.” (QS. Al-Mudatstsir : 1-7)

 

pengertian :

“Sampaikanlah peringatan”, ialah : menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.

“Agungkanlah Tuhanmu” : agungkanlah Ia dengan berserah diri dan beribadah kepada-Nya semata.

“Tinggalkanlah berhala-berhala itu”, artinya : jauhkan serta bebaskan dirimu darinya dan orang-orang yang memujanya.

 

Beliaupun melaksanakan perintah ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun, mengajak kepada tauhid. Setelah sepuluh tahun itu, beliau dimi’rajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyari’atkan kepada beliau shalat lima waktu. Beliau melakukan shalat di Makkah selama tiga tahun. Kemudian, sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.

 

Hijrah, pengertiannya, ialah : pindah dari lingkungan syirik ke lingkungan Islami.

Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan ummat Islam. Dan kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat.

 

Dalil yang menunjukkan kewajiban hijrah, yaitu firman Allah ta’aala :

 

]إن الذين توفاهم الملائكة ظالمي أنفسهم قالوا فيم كنتم  قالوا كنا مستضعفين في الأرض قالوا ألم تكن أرض الله واسعة فتهاجروا فيها  فأولئك مأواهم جهنم وساءت مصيرا[.

]إلا المستضعفين من الرجال والنساء والولدان لا يستطيعون حيلة ولا يهتدون سبيلا فأولئك عسى الله أن يعفو عنهم  وكان الله غفورا رحيما[.

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan zhalim terhadap diri mereka sendiri ([15]) , kepada mereka malaikat bertanya : ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab : ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makah)’. Para malaikat berkata : ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (kemana saja) di bumi ini?. Maka mereka itu tempat tinggalnya neraka jahannam dan jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Akan tetapi orang-orang yang tertindas diantara mereka, seperti kaum lelaki dan wanita serta anak-anak yang mereka itu dalam keadaan tidak mampu menyelamatkan diri dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), maka mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Dan Allah adalah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’ : 97-99)

 

dan firman Allah ta’aala :

]يا عبادي الذين آمنوا إن أرضي واسعة فإياي فاعبدون[.

“Wahai hamba-hambaku yang beriman! Sesungguhnya, bumi-Ku adalah luas, maka hanya kepadaKu saja supaya kamu beribadah.” (QS.  Al-Ankabut : 56).

 

Albaghawi ([16]) Rahimahullah, berkata : “Ayat ini, sebab turunnya, adalah ditujukan kepada orang-orang muslim yang masih berada di Makkah, yang mereka itu belum juga berhijrah. Karena itu, Allah menyeru kepada mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman.”

 

Adapun dalil dari sunnah yang menunjukkah kewajiban hijrah, yaitu sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam:

لا تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة, ولا تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها.

“Hijrah tetap akan berlangsung selama pintu taubat belum ditutup, sedang pintu taubat tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari barat.

 

Setelah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam menetap di Madinah, disyari’atkan kepada beliau zakat, puasa, haji, adzan, jihad, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta syari’at-syari’at Islam lainnya.

Beliau pun melaksanakan perintah untuk menyampaikan hal ini dengan tekun dan gigih selama sepuluh tahun. Sesudah itu wafatlah beliau, sedang agamanya tetap dalam keadaan lestari.

 

Inilah agama yang beliau bawa. Tiada suatu kebaikan yang tidak beliau tunjukkan kepada umatnya. Dan tiada suatu keburukan yang tidak beliau peringatkan supaya dijauhi. Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridhai Allah; sedang keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan dimurkai Allah.

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah kepada seluruh umat manusia, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya.

 

Allah ta’ala berfirman :

]قل يا أيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا[

“Katakanlah : ‘Wahai mausia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.” (QS.  Al-A’raf : 158).

 

Dan melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya untuk kita. Firman Allah ta’aala :

]اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا[.

“Pada hari ini ([17]), telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan Aku lengkapkan kepadamu ni’matKu serta aku ridhai Islam itu mrnjadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah : 3).

 

Adapun dalil yang menunnjukkan bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga wafat, ialah firman Allah ta’aala:

]إنك ميت وإنهم ميتون  ثم إنكم يوم القيامة عند ربكم تختصمون[

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu nanti pada hari Kiamat berbantah-bantahan dihadapan Tuhanmu.” (QS. Az-Zumar : 30-31).

 

Manusia sesudah mati akan dibangkitkan kembali. Dalilnya, firman Allah ta’aala :

]منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى[

“Berasal dari tanahlah kamu telah kami jadikan dan kepadanya kamu kami kembalikan, serta darinya kamu akan kami bangkitkan sekali lagi.” (QS.  Thaha : 55).

 

Dan firman Allah ta’aala :

]والله أنبتكم من الأرض نباتا ثم يعيدكم فيها ويخرجكم إخراجا[.

“Dan Allah telah menunbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu kedalamnya (lagi) dan (pada hari kiamat) Dia akan mengeluarkan kamu dengan sebenar-benarnya.” (QS.  Nuh : 17-18).

 

Setelah menusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka.

Firman Allah ta’aala :

]ولله ما في السماوات وما في الأرض ليجزي الذين أساؤوا بما عملوا ويجزي الذين أحسنوا بالحسنى[

“Dan hanya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat buruk sesuai dengan perbuatan mereka dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan (pahala) yang lebih baik lagi (surga).” ( QS. An-Najm : 31).

 

Barangsiapa yang tidak mengimani kebangkitan ini, maka dia adalah kafir.

Firman Allah ta’aala :

]زعم الذين كفروا ان لن يبعثوا قل بلىوربي لتبعثن ثم لتنبؤن بما عملتم وذلك على الله يسير[

“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakan : ‘tidaklah demikian. Demi Robbku, kamu pasti akan dibangkitkan dan niscaya akan diberitakan kepadamu apapun yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah amat mudah bagi Allah.” (QS. At-Taghabun : 7).

 

Allah telah mengutus semua Rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.

Sebagaimana firman Allah ta’aala :

]رسلا مبشرين ومنذرين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل[

“(Kami telah mengutus) Rasul-rasul mejadi penyampai kabar gembira dan pemberi peringatan, supaya tiada lagi suatu alasan bagi mausia membantah Allah setelah (diutusnya) para Rasul itu.” (QS.  An-Nisa’ : 165).

 

Rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam ([18]), dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, serta beliaulah penutup para Nabi.

 

Dalil yang meunjukkan bahwa Rasul pertama adalah Nabi Nuh, firman Allah ta’aala :

]إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيون من بعده[.

“Sesungguhnya Kami mewahuyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan para Nabi sesudahnya…” (QS. An-nisa’ :163)

 

dan Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka beribadah kepada thaghut. Allah ta’aala berfirman:

 

]ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت[.

“Dan sesungguhnya, Kami telah mengutus kepada setiap ummat seorang Rasul (untuk menyerukan) : Beribadahlah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (QS.  An-Nahl :36).

Dengan demikian, Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kafir kepada thaghut dan hanya beriman kepada-Nya saja.

Ibnu Al-Qayyim ([19]) Rahimahullah Ta’ala telah menjelaskan pengertian thaghut dengan mengatakan :

 

( الطاغوت : ما تجاوز به العبد حده من معبود، أو متبوع، أو مطاع ).

“Thaghut, ialah segala sesuatu yang diperlakukan menusia secara melampaui batas (yang telah ditentukan oleh Allah), seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi.”

 

Thaghut itu banyak macamnya, tokoh-tokohnya ada lima :

1-    Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah,

  1. Orang yang disembah, sedang ia sendiri rela,
  2. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya,
  3. Orang yang mengaku tahu sesuatu yang ghaib,
  4. Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.

Allah ta’aala berfirman :

]لا إكرا في الدين قد تبين الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى لا انفصام لها والله سميع عليم[

“Tiada paksaan dalam (memeluk) agama ini. Sungguh telah jelas kebenaran dari kesesatan. Untuk itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan iman kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang teguh dengan tali yang amat kuat, yang tidak akan terputus tali itu. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ; 256).

Ingkar kepada semua thaghut dan iman kepada Allah saja, sebagaimana dinyatakan dalam ayat tadi, adalah hakekat syahadat “La Ilaha Illallah”.

Dan diriwayatkan dalam hadits, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

رأس هذا الأمر الإسلم، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله.

“Pokok agama ini adalah Islam ([20]), dan tiangnya adalah shalat, sedang ujung tulang punggungnya adalah jihad fi sabilillah ([21]).

 

Hanya Allahlah yang Maha Tahu. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.

 


([1] ). Abu Abdillah: muhammad bin idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’  Al-Hasyimi Al-Qurasyi Al-Mutthalibi (150-204H=767-820M). salah seorang imam empat. Dilahirkan di ghaza (Palestina) dan meninggal di Cairo. Diantara karya ilmiahnya : Al-Um, Ar-Risalah dan Al-Musnad.

([2] ). Abu Abdillah : Muhamad  bin Ismail bin Ibarahim bin Al-Mughirah Al-Bukari (194-256H810-870M). seorang ulama ahli hadis, untuk mengumpulkan hadits, ia telah menempuh parjalanan panjang; mengunjungi khurasan, Irak, Mesir, dan syam. Kitab-kitab yang disusunnya antara lain: Al-Jami’ Ash-shahih (yang lebih dikenal dengan Shaihih Al-Bukhari), At-Taarikh,  Adhu’afa’, Khalq af’al Al-Ibad.

([3] ) Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab Al-Ilm, bab 10

([4] ) lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, (Cairo: Maktabah Dar At-turats, 1400H), jilid 1 hal, 57.

([5] ) lihat Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’anul Azhim, (Cairo: Maktabah Dar At-turats, 1400H), jilid 1 hal, 57.

([6] ) Islam, yang dimaksud disini, adalah: syahadat, shalat, shiyam, zakat dan haji.

([7] ) Hadits riwayat At-Tirmizi dalam Al-Jami’ Ash-Shahih, kitab -Da’awat, bab 1.

Dan maksud hadis ini: bahwa segala macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min, seperti: mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll. Semestinya diiringi dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi. Oleh karena itu do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena senantiasa harus mengiringi gerak ibadah.

([8] ) hadits riwayat At-Tirmizi dalam Al-Jami’ Ash-Shohih, kitab syafaat Al-Qiyamah War-Raqoiq Wal-Wara’, bab 59. dan riwayat Imam Ahmad Musnad (Beirut; Al-Maktab Al-Islami, 1403 H), jillid 1, hal, 293, 303, 307

([9] ) Hadits riwayat Muslim dalam Shohihnya, kitab Al-Adhahi, bab 8. dan riwyat Imam Ahmad dalam Al-Musnad, jilid 1, hal. 108 dan 152.

([10] ) Qadar ialah : takdir, ketentuan Ilahi, yaitu : iman bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah diketahui, dicatat, dikehendaki dan dijadikan oleh Allah ta’aala.

([11] ) Pengertian Ihsan tersebut merupakan penggalan dari hadits jibril, yang dituturkan oleh Umar  bin Al-Khattab rodhiallohu ‘anhu, sebagaimana akan disebutkan.

([12] ) disebutkan hadits Jjibril, karena Jibrillah yang datang kepada Rasulullah shollallhu ‘alaihi wa sallam dengan menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman , Ihsan dan masalah hari kiamat. Hal itu dimaksudkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum  Muslimin tentang masalah-masalah agama.

([13] ) Hadirs riwayat Muslim dalam shahih-nya, kitab al-Iman, bab 1 hadits ke-1. dan diriwayatkan juga hadits dengn lafazh seperti ini dari Abu Hurairah oleh Al-Bukhari dalam shahihnya, kitab Al-Iman, bab 37, hadits ke-1.

([14] ) Yakni surt Al-Alaq 1-5.

([15] ) Yang dimaksud dengan zhalim terhadap diri mereka sendiri dalam ayat ini, ialah orang-orang penduduk Makkah yang sudah masuk Islam tetapi mereka tidak mau  hijrah bersama Nabi, padahal mereka mampu dan sanggup. Mereka ditindas dan di paksa oleh orang-orang kafir supaya ikut bersama mereka pergi ke perang badar, akhitnya ada diantara mereka yang terbunuh.

([16] ) Abu Muhammad : Al-Husain bin Mas’ud bin Muhammad Al-Farra’, atau Ibnu Al-Farra’, Al-Baghawi (436-510H= 1044-1117 M). seorang ahli dalam bidang fiqh, hadits dan tafsir. Diantara karyanya : At-Tahdzib (fiqh), Syarh As-sunnah (hadits), Lubab At-Tawil fi ma’alim at-tanzil (tafsir).

([17] ) Maksudnya, adalah hari Jum’at ketika wuquf di arafah, pada waktu haji wada’.

([18] ) Selain dalil dari alqur’an yang disebutkan penulis, yang meunjukkan bahwa Nabi Nuh adalah Rasul pertama, disana ada juga hadis shahih yang menyetakan bahwa Nabi Nuh adalah rasul pertma yang dirutus kepada penduduk bumi ini, seperti hadits riwayat Al-bukhari dalam shohih nya, kitab Al-Anbiya’, bab 3, dan riwayat Muslim dalam shahihnya, kitab Al-Iman bab 84.

Adapun Nabi Adam ‘alaihis salam, meurut sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-ghifari R.A, beliau adalah nabi pertama. Dn disebutkan dalam hadits ini bahwa jumlah para Nabi ada 124 ribu orang, dari jumlah tersebut sebagai Rasul 315 orang, dan dalam riwayat lain desebutkan lebih dari 312 orang. Lihat : Imam Ahmad, Al-Musnad, jilid 5, hal, 178, 179 dan 265.

([19] ) Abu Abdillah : Muhamad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’ad  Az-zur’i Ad-dimasyqi, terkenal dengan Ibnu Al-qayyim atau Ibnu Qayim al-Jauziyah (691-751 H = 1292-1350 M). seorang ulama yang giat dan gigih dalam mengajak ummat Islam pada zamannya untuk kembali lepada tuntunan Al-Qur’an dn Sunnah serta mengikuti jejeak par salafus shaleh. Mempunyai banyak karya tulis, antara lain : Madarij-assalikin, Zaad Al-Ma’ad, Thariq Al-Hijratain wa Baab As-sa’adatain, At-tibyan fi Aqsam Al-Qur’an, Miftah Dar As-sa’adah.

([20] ) Silahkan melihat kembali pengertian Islam yang disebutkan oleh penulis pada hal 23.

([21] ) Hadits shahih riwayat At-thabrani dari Ibnu Umar t dan riwayat At-tirmizi dalam Al-Jami’ As-Shahih, kitab Al-Iman, bab 8.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: