Awas Hadist – Hadist Palsu.!

Kategori Hadits | 03-06-2008 | 43 Komentar

Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber hukum Islam yang menjadi pegangan hidup umat Islam. Allah sendiri yang akan menjaga al-Qur’an dari pengubahan, penambahan atau pengurangan, walaupun hanya satu huruf atau satu harakat saja. Begitu pula dengan As Sunnah (al-Hadits) sebagai penjaga makna atau penjelas al-Qur’an juga akan terjaga. Maka tidak ada seorangpun di ujung dunia yang membuat-buat hadits dusta kecuali akan terkuak kepalsuannya.

Bagaimana Hadits Bisa Terjaga?

Hadits terjaga dengan adanya sanad hadits. Dengan sanad itulah para ulama ahli hadits bisa membedakan manakah hadits shahih, hadits dhaif (lemah) dan hadits maudhu’ (palsu). Sanad adalah susunan orang-orang yang meriwayatkan hadits. Para periwayat tersebut diperiksa satu persatu secara ketat tentang riwayat hidupnya, apakah ia seorang jujur ataukah pendusta, hafalannya kuat ataukah lemah dan pemeriksaan ketat lainnya. Jika seluruh rawi dalam sanad hadits lulus pemeriksaan maka hadits tersebut berstatus shahih yang wajib kita jadikan pegangan hidup. Dan dengan demikian tersingkaplah hadits-hadits palsu bikinan para pendusta yang sengaja membuatnya untuk merusak agama Islam. Hanya orang-orang jahil saja yang bisa tertipu oleh mereka.

Bagaimana Kita Menyikapi Hadits?

Sebagaimana kita bersikap ilmiah dalam perkara-perkara dunia maka kita juga harus bersikap ilmiahlah dalam perkara agama. Jangan mengambil sebuah hukum atau syariat yang bersumber dari hadits lemah apalagi hadits palsu. Atau ikut-ikutan menyebarkan hadits-hadits lemah dan palsu tanpa menjelaskan status hadits itu. Bahkan ada yang dengan mudahnya mengatakan: “Hadits shahih!” padahal hadits tersebut palsu. subhanallah!! Perbuatan seperti ini telah diancam dalam sebuah hadits yang mulia, “Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari juz 1 dan Muslim juz 1). Hadits ini statusnya shahih dan mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan). Betapa banyak hadits lemah dan palsu yang beredar di kalangan umat Islam karena mereka tidak selektif dalam mendengar dan mengambil hadits, akibatnya adalah munculnya masalah dan penyimpangan dalam kehidupan bermasyarakat, beribadah, berakhlak dan berakidah.

Maraknya Hadits Dhoif dan Maudhu’

Di negeri kita ini banyak sekali hadits-hadits lemah dan palsu yang laris di telinga masyarakat. Di samping ketidaktahuan tentang ilmu hadits, banyaknya para da’i yang menggembor-gemborkan hadits-hadits tersebut memberikan andil dalam menyemarakkannya. Salah satu contohnya ialah hadits, “Carilah ilmu sekalipun ke negri Cina.” Hadits ini adalah hadits mungkar dan batil, tidak ada asal usulnya serta tidak ada jalan yang menguatkannya. Demikianlah para imam ahli hadits telah mengomentari hadits ini seperti Imam Bukhari, Al Uqaili, Abu Hatim, Yahya bin ma’in, Ibnu Hibban dan Ibnu Jauzi. Selain dari sisi sanad yang lemah, maka hadits inipun juga memiki cacat dalam maknanya. Sebab negeri maju ketika itu adalah romawi dan persi, bagaimana Rasulullah hendak memerintahkan sahabatnya untuk belajar ke negeri China yang bukan termasuk negeri adidaya? Dan bagaimana pula Rasulullah menyuruh sahabatnya belajar pergi ke negeri kafir yang jelas-jelas akan membahayakan akidahnya? Wallahul musta’an!

Hadits lain yang laris manis adalah hadits, “Perselisihan umatku adalah rahmat.” Hadits tersebut adalah hadits yang tidak ada asal usulnya dan tidak dikenal oleh ahli hadits, artinya mereka tidak pernah mendapati hadits ini baik dalam status shahih, dhaif ataukah maudhu’. Bahkan Imam Ibnu Hazm berkata, “Ini adalah perkataan yang paling rusak. Sebab jika perselisihan adalah rahmat, maka konsekuensinya persatuan adalah azab. Ini tidak mungkin dikatakan seorang muslim. Karena tidak akan berkumpul antara persatuan dan perselisihan serta antara rahmat dan azab.”

Contoh sebuah hadits palsu yang terkenal adalah hadits, “Barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malam nishfu sya’ban dari bulan sya’ban, ia baca pada setiap rakaat sesudah Al-Fatihah: Qulhu 10X, maka tidak ada seorangpun yang shalat seperti itu melainkan Allah kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itu ….”. Hadits ini palsu (Lihat Al-Maudhu’at karya Imam Ibnul Jauzi) dan menjadi sumber bid’ah dalam peringatan malam nishfu sya’ban, memberatkan umat dengan sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah. Dan beliau sendiri tidak pernah mengucapkan perkataan ini!

***

Penulis: Abu Ilyas R. Handanawirya
Artikel http://www.muslim.or.id

43 komentar

  1. Ng says:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Mengenai do’a dimalam nisfu sya’ban adalah SUNNAH RASUL SAW. Sebagaimana Hadist-hadist berikut :
    Sabda Rasulullah SAW : “Allah Mengawasi dan memandang hamba – hambanya dimalam nisfu Sya’ban, lalu mengampuni dosa-dosa mereka semua kecuali musyrik dan orang pemarah pada sesama muslimin ( Shohih Ibn Hibban Hadist No. 5755 ).

    Berkata Aisyah RA : “Disuatu malam aku kehilangan Rasul SAW, dan aku kutemukan belia SAW sedang di pekuburan BAQI’, beliau mengangkat kepalanya kearah langit, seraya Bersabda :”Sungguh Allah turun ke Langit bumi di malam Nisfu Sya’ban dan mengampuni dosa-dosa hamba-NYA sebanyak lebih dari jumlah bulu anjing dan domba” ( Musnad Imam Ahmad Hadist No.24825 )

    Dengan Fatwa-fatwa tersebut diatas, maka kita memperbanyak do’a di malam itu, jelas pula bahwa do’a tidak dapat dilarang kapanpun dan di manapun,bila anda melarang. Maka Hendaknya engkau menunjukkan Dalil (pelarangannya)???

  2. Wa’alaikumussalam Warahmatullah
    Semoga Allah merahmati anda. Hadits yang disinggung penulis pada artikel memang benar hadits palsu. Namun penulis tidak sedang membahas hukum do’a di malam nishf sya’ban.

    Mengenai hadits yang anda bawakan,
    Hadits pertama, haditsnya lemah karena terdapat perawi bernama Abdul Muluk bin Abdil Muluk, yang lemah. Sebagaimana dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (2/659)
    Hadits kedua, hadits ini dilemahkan oleh Imam Al Bukhari yang dinukil oleh At Tirmidzi dalam Sunan-nya (739).

    Namun, mengenai hukum menghidupkan malam nishfu sya’ban, menimbang banyaknya hadits yang membicarakan hal ini walaupun terdapat kelemahan, namun sebagiannya saling menguatkan, maka hukumnya BOLEH jika dilakukan secara individu, namun BID’AH jika dilakukan dengan berjama’ah atau dibuat acara perayaan khusus dengan tata cara dan doa-doa khusus. Karena tidak ada satupun dalil yang lemah sekalipun yang menunjukkan pernah diadakan acara demikian. Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Al ‘Uqail, simak artikel berikut:
    http://islamlight.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&Itemid=0&catid=349&id=4553

Komentar dari saya Pemilik Blog. Saya nda ngerti Masalah Hadist.tapi bila dilihat dilapangan  orang yang benisfu sa’ban Kebanyakan masayarakat awam yang jarang memperdalam ilmu agama. mereka hanya beragama ikut ikutan rame- rame kemesjid hanya pada malam nisfu saban.coba lihat musholla atau masjid mereka di hari hari lain.apakah mereka mengisi shalat 5 waktu…di musholla …. ????. katanya menyambut bulan Ramadhan.. eeh ketika Ramadahn Datang masjidnya.. sepi… jua ai…. sibuk di pasar… di malam malam terakhir ramadhan.Malam nisfu sa’ban toko tutup. malam Ramdhan kok nngga yaaa… .. ada apa ini.Kalau malam nisfu sa’ban begitu hebat… kok malam ramadhan tidak serame… malam nisfu sa’ban …. aneh ….kan… !!!!!!

2 Responses

  1. Assalamu’alaikum.
    Afwan!!! klw Qt sll m’mbahas mslah prbedaan pndapt pr Ulama, mk smpe Kiamat tdk akn prnh habis.
    Kencangkn Amalan, Da’wahkan agama, ajaklh sluruh manusia taat kpd Allah, klw ada yg m’mbangkang qt hrs sabar krn Allah Maha pmberi Hidayah.
    ttg Syariat Islam tlh rampung dibahas o/ pr Ulama kurang lbih 1500 thn silam. Qt tnggal m’laksanakn ssuai Mazhab yg qt Yakini. Amalan qt sndri blm tntu bnar lantas mw nyalahkn Org lain.
    klw ada yg salah, sampaikn yg bnar, jgn m’nyalahkn. Jzkllh!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: